KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Muhasabah » Fatamorgana Layar Kaca: Mengapa Kita Harus Berhenti “Menyembah” Gaya Hidup Influencer?

    Fatamorgana Layar Kaca: Mengapa Kita Harus Berhenti “Menyembah” Gaya Hidup Influencer?

    BY 11 Jan 2026 Dilihat: 195 kali

    Pernahkah Anda merasa hidup Anda sangat membosankan setelah melihat story dan postingan Instagram seorang selebgram? Atau merasa insecure dan “jiwa miskinku meronta-ronta” setelah menonton konten flexing, memperlihatkan kekayaan dan pamer ria oleh YouTuber? Atau merasa menjadi orang tua yang gagal karena melihat pola asuh artis yang tampak begitu tenang, rapi, dan serba lengkap dan mewah?

    Kita sedang hidup di era “Etalase Digital”. Di era ini, batas antara realitas dan kurasi citra menjadi sangat kabur. Generasi muda hingga orang tua terjebak dalam pusaran kekaguman yang tanpa sadar mengikis rasa syukur dan kewarasan. Mari kita bedah mengapa fenomena ini berbahaya bagi mental, sosial, dan iman kita.

    Jebakan Social Comparison

    Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan melakukan social comparison atau membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, yang kita bandingkan adalah “dapur” kita yang berantakan dengan “ruang tamu” mereka yang sudah dihias.

    Penelitian menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap kehidupan “sempurna” di media sosial memicu anxiety (kecemasan) dan depresi. Kita melihat pola asuh yang tanpa cela, padahal kita tidak melihat tangis lelah mereka di balik kamera. Mengidolakan gaya hidup ini secara fanatik hanya akan menciptakan standar kebahagiaan yang semu.

    Liarnya Pencitraan

    Sosiolog Jean Baudrillard pernah bicara soal Simulakra, di mana citra (gambar) dianggap lebih nyata dari pada kenyataan itu sendiri. Gaya hidup yang dipamerkan sering kali adalah bentuk opini publik yang dikonstruksi. Masyarakat yang fanatik adalah masyarakat yang mudah dikendalikan (manipulated mass). Fenomena ini diperparah dengan sikap takalluf (memaksakan diri), di mana seorang figur berusaha tampak hebat, serba tahu, dan serba punya, padahal kenyataannya tidak demikian. Ini adalah bentuk disinformasi gaya hidup yang merusak nalar publik

    Dampaknya sangat liar, karena masyarakat mulai memaksakan standar hidup yang tidak realistis. Konsumerisme meningkat karena kita ingin terlihat sama dengan idola. Padahal, secara sosiologis, hubungan antara penggemar dan influencer bersifat parasosial atau searah. Mari jujur pada diri sendiri, apa yang kita dapatkan dari kefanatikan terhadap gaya hidup influencer atau seleb tersebut? Kita merasa mengenal mereka, tapi mereka tidak mengenal kita, bahkan tidak tahu kita ada. Kita tidak mendapatkan apa-apa dari kefanatikan itu selain rasa haus yang tak pernah tuntas.

    Mesin Marketing di Balik Konten

    Jangan lupa, apa yang kita lihat adalah komoditas. Dalam ekonomi digital, perhatian kita ke konten flexing (pamer) dan gaya hidup influencer adalah mata uang bagi mereka. Kehidupan mewah, barang bermerek, hingga pola asuh anak yang estetik sering kali adalah bagian dari personal branding atau kontrak iklan.

    Menjadikan mereka kiblat gaya hidup adalah kesalahan fatal dan kekeliruan finansial. Masyarakat umum sering kali memaksakan diri membeli apa yang mereka pakai, padahal pendapatan kita tidak sama dengan kontrak endorsement mereka. Ini adalah jebakan gaya hidup yang bisa berujung pada jeratan pinjaman online dan gaya hidup konsumtif (boros) yang toksik.

    Larangan Ghuluw (Berlebihan)

    Islam secara tegas mengingatkan kita untuk tidak berlebihan dalam mengagumi makhluk. Fokus yang terlalu besar pada kehidupan duniawi orang lain dapat mematikan hati dan menghilangkan rasa syukur kepada Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Dalam Islam, mengidolakan seseorang secara berlebihan disebut Ghuluw. Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 171:

    يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

    “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu…”

    Walaupun konteksnya agama, prinsip ini berlaku universal, karena segala sesuatu yang melampaui batas akan mendatangkan kerusakan.

    Rasulullah ﷺ juga mengingatkan secara tegas lewat sabdanya:

    هَلَكَ المُتَنَطِّعُون، قَالَهَا ثَلَاثًا

    “Celakalah orang-orang yang melampaui batas (berlebih-lebihan atau ekstrem), Beliau mengucapkannya tiga kali.” (H.R. Muslim, no. 2670)

    Islam senantiasa menyerukan prinsip moderasi (tawassuth) dan keseimbangan (i’tidal). Rasulullah ﷺ membimbing umatnya untuk beramal tanpa terjebak dalam ekstremitas, baik itu berlebihan (ifrath) maupun meremehkan (tafrith).

    Nabi ﷺ mengulang kalimat ini tiga kali sebagai peringatan keras akan buruknya dampak perilaku tersebut. Kehancuran yang dimaksud bukan hanya di akhirat, tapi kehancuran mental di dunia dengan hilangnya rasa syukur karena terus memandang ke atas, dan rusaknya ketenangan batin karena hidup dalam kepura-puraan.

    Kehidupan yang dipamerkan secara berlebihan juga rawan terkena atau menyebabkan penyakit ‘ain (pandangan mata yang merusak). Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk hidup proporsional. Beliau ﷺ bersabda:

    انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

    “Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu (dalam urusan dunia). Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (H.R. at-Tirmidzi, no. 2513)

    Kembali kepada Kenyataan

    Sebagai catatan, tentu tidak semua kreator konten atau influencer seperti yang kita bahas tersebut di atas. Banyak juga yang memberikan manfaat nyata. Namun, yang kita kritisi di sini adalah pola konsumsi masyarakat yang tidak kritis serta tren ‘flexing’ dan pamer figuritas secara manipulatif sehingga menyesatkan mindset masyarakat.

    Generasi muda dan milenial, serta masyarakat secara umum harus memiliki filter kritis. Influencer adalah manusia biasa dengan masalah yang mungkin lebih berat dari kita, hanya saja mereka dibayar atau terlatih untuk tidak menunjukkannya.

    Jangan biarkan standar kebahagiaan kita ditentukan oleh algoritma. Ambillah yang baik sebagai inspirasi, tapi jangan jadikan mereka standar kebenaran atau kiblat kehidupan. Hidup kita terlalu berharga untuk sekadar menjadi penonton kesuksesan orang lain.

    Mari berhenti jadi penonton, dan mulailah jadi aktor dalam kehidupan nyata kita sendiri. (Ak/ redaksi)

    Baca Juga: Batasi Pandangan Mata, agar Syukur Tetap Terjaga!

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Fatamorgana Layar Kaca: Mengapa Kita Harus Berhenti “Menyembah” Gaya Hidup Influencer?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023