KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Tadabbur Quran » Seni Keseimbangan Pangan Ala Al-Qur’an

    Seni Keseimbangan Pangan Ala Al-Qur’an

    BY 17 Feb 2026 Dilihat: 136 kali

    Hidup di era modern memang menantang, terutama dalam menjaga apa yang masuk ke dalam perut. Kita tidak mungkin sepenuhnya menutup mata dari kemajuan teknologi pangan, namun Al-Qur’an telah memberikan kompas yang presisi agar kita tidak tersesat dalam pola makan yang merusak tubuh. Tubuh kita adalah amanah, dan memberikan haknya berupa nutrisi yang berkualitas adalah bentuk syukur yang paling nyata.

    Prinsip dasar yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an bukan sekadar soal status hukum “halal”, tapi juga kualitas dan kebaikan “thayyib”. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 88:

    وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ

    “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

    Di ayat lain, Allah Ta’ala juga berfirman:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

    “Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah ayat 168)

    Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (w. 1376 H) dalam tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman, menjelaskan bahwa perintah makan ini adalah sebuah instruksi universal bagi seluruh manusia, orang-orang beriman atau pun orang-orang kafir.

    As-Sa’di menegaskan bahwa mengonsumsi karunia bumi seperti biji-bijian, buah-buahan, hingga daging hewan adalah hak dasar manusia. Namun, ada batasan yang sangat presisi, yakni halalan thayyiban. Syeikh As-Sa’di menjelaskan bahwa sesuatu disebut thayyib (baik) secara esensial jika ia bersih dari sifat khabits atau buruk atau merusak.

    Menariknya, beliau menekankan bahwa makan dalam kadar yang cukup untuk menjaga struktur tubuh (yaqimu al-binyah) agar tetap tegak dan berfungsi optimal hukumnya adalah wajib. Artinya, menelantarkan kesehatan tubuh dengan pola makan yang merusak bukan sekadar kelalaian medis, melainkan sebuah dosa karena mengabaikan amanah fisik yang diberikan Tuhan.

    Mengapa kita sering terjebak pada makanan yang merusak? Syeikh As-Sa’di mengingatkan bahwa ini adalah bagian dari langkah-langkah setan. Setan tidak hanya menggoda manusia untuk melakukan dosa besar, tapi juga untuk menjauh dari apa yang menjadi inti kemaslahatan mereka (‘ainu shalahihim), termasuk dalam urusan piring makan kita.

    Mengganti makanan alami yang menyehatkan dengan segala sesuatu yang merusak sistem tubuh adalah salah satu tipuan musuh yang nyata tersebut. Dalam konteks modern, ini adalah ajakan untuk kembali memprioritaskan makanan yang minim proses kimiawi tanpa harus bersikap ekstrem anti-teknologi.

    Allah Ta’ala juga menyebutkan sumber protein hewani. Al-Qur’an tidak melarang daging, justru menyebutnya sebagai nikmat. Ini adalah pukulan telak bagi para vegan yang mengharamkan makan daging-daging hewan yang oleh Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut justru menghalalkannya untuk dimakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam Surah An-Nahl ayat 5, Allah berfirman:

    وَٱلْأَنْعَٰمَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَٰفِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

    “Dan Dia (Allah) telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.”

    Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatih al-Ghaib memberikan batasan yang presisi mengenai apa yang dimaksud dengan al-An’am atau hewan ternak. Beliau merinci bahwa sumber protein hewani utama yang disediakan Allah bagi manusia berpusat pada tiga kelompok besar, yaitu unta, sapi, dan kambing (termasuk domba).

    Penegasan ini memberikan kita perspektif bahwa Islam mengarahkan kita pada sumber protein dari hewan-hewan pemakan tumbuhan yang bersih. Ini adalah pilihan yang aman dan alami bagi tubuh.

    Di tengah maraknya daging olahan atau sumber protein yang tidak jelas asal-usulnya, kembali ke daftar fundamental yang tersebut tadi, yakni hewan yang sehat, dipelihara dengan baik, dan memakan apa yang disediakan alam, adalah langkah nyata menuju gaya hidup yang lebih autentik dan sesuai dengan fitrah manusia.

    Namun, Allah juga mengingatkan agar protein hewani ini diseimbangkan dengan unsur nabati yang segar. Lihatlah bagaimana Allah menyandingkan air hujan dengan tumbuhnya buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia dalam Surah Ibrahim ayat 32:

    وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ

    “…dan Dia menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu.”

    Penyebutan tsamarat (buah-buahan) setelah air hujan menunjukkan betapa alaminya sumber gizi tersebut. Buah adalah makanan siap saji dari alam, penuh dengan air dan serat yang membersihkan pencernaan kita dari sisa-sisa makanan olahan yang mungkin mengendap.

    Kita tidak perlu memusuhi zaman, tapi kita perlu memiliki kendali. Di tengah gempuran makanan instan yang penuh pengawet, mengalokasikan ruang lebih besar untuk buah, sayur, dan daging segar adalah strategi realistis untuk menjaga keseimbangan. Seperti kata Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Az-Zuhd: “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya.” Jika pun harus lebih, maka bagilah secara adil antara makanan, minuman, dan udara.

    Mari kita jadikan meja makan kita sebagai saksi bahwa kita memilih yang terbaik dari apa yang Allah tumbuhkan di bumi. Bukan karena kita anti-modernitas, tapi karena kita menghargai mesin biologis luar biasa yang telah Allah titipkan ini. (Ak/redaksi)

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Seni Keseimbangan Pangan Ala Al-Qur’an

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023