KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah 'Ied » Idul Qurban: Menggali Sejarah dan Aplikasi Nilai- nilai Keteladanan

    Idul Qurban: Menggali Sejarah dan Aplikasi Nilai- nilai Keteladanan

    BY 11 Oct 2023 Dilihat: 188 kali

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa Rawamangun- Jakarta)

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ؛ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ؛

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ عِيْدَ الْأَضْحٰى يَوْمَ التَّقَرُّبِ وَالسُّرُورِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي تَفَضَّلَ في هذِه الأيَّامِ العَشْرِ علَى كلِّ عبدٍ شَكُورٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِإِخْرَاجِ النَّاسِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ؛  اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلٰى نَهْجِهِ إِلٰى يَوْمِ البَعْثِ وَالنُّشُوْرِ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحُضُوْرُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيْ السِّرِّ وَالظُّهُوْرِ ! حَيْثُ قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَحَبْلِهِ الْمَتِيْنِ:{وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ}  [البقرة: 194]؛ أَمَّا بَعْدُ؛

    Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,

    Berbicara tentang peristiwa Idul Adha maka tidak bisa dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Nabi Ibrahim termasuk rasul Ulul ‘Azmi, yaitu rasul (utusan Allah) yang memiliki kekuatan, keteguhan, dan kesabaran yang luar biasa dalam urusan agama. (Tafsīr Ahmad Huṭaibah, 416/5)

    Mari kita kaji secara singkat surat As-Shaffat ayat 98 sampai ayat 107.

    Pertama, kita buka kisah Ibrahim a.s. dari surat as-Shaffat ayat 98:

    فَأَرَادُوا۟ بِهِۦ كَيْدًا فَجَعَلْنَٰهُمُ ٱلْأَسْفَلِينَ

    “Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina”

    Ayat tersebut menerangkan bahwa Kaum Nabi Ibrahim membuat makar dengan cara membakar dan berusaha membunuh Ibrahim a.s. Maka Allah membalas makar kaum durhaka itu dengan menyelamatkan Ibrahim dari siksaan mereka dengan cara menjadikan api itu dingin dan tidak membahayakan Ibrahim, sehingga kaum durhaka itu merasakan kekecewaan dan kekalahan. (Tafsīr al-Madīnah al-Munawwarah, Nukhbah min al-‘Ulamā, 2/380)

    Menyadari bahwa kaumnya memang bebal dan tidak bisa diberitahu kebenaran, Nabi Ibrahim ‘alaihissalām memilih untuk hijrah dari negerinya, sebagaimana disebutkan pada ayat selanjutnya, 99:

    وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ

    Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

    Inilah hijrah di jalan Allah yang pertama kali dalam sejarah yang dilakukan dalam rangka menjauhi peribadatan kepada selain Allah (at- Tahrīr wa at-Tanwīr, Ibn ‘Āshūr, 23/ 146)

    Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah yang terdapat di dua ayat tersebut tadi? Ya, menguatkan tawakkal kepada Allah dan tidak menyerah dalam perjuangan. Ketika Nabi Ibrahim a.s. terhimpit dan terdesak hanya satu doa yang beliau panjatkan dengan penuh tawakkal:

    حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ

    “Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (H.R. Bukhari no. 4564)

    Bahkan Nabi Ibrahim a.s. berhijrah untuk mencari tempat yang lebih kondusif agar risalah kebenaran tetap  bisa tersebar. Begitu pula saat kita terhimpit bahkan terpuruk sekalipun, masih ada banyak jalan terbuka selama kita tidak putus hubungan dengan Allah dan senantiasa berusaha. Itulah penegasan Allah:

    وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

    Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk menacri keridhaan Kami (Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Ankabut ayat 69)

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah

    Selanjutnya, ayat yang ke 100 surat as-Shaffat berbunyi:

    رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

    Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

    Ketika Nabi Ibrahim a.s. sudah skeptis  terhadap kaumnya karena beliau tidak melihat adanya iktikad baik pada mereka, maka beliau berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang shalih yang dijadikan bermanfaat oleh Allah di waktu beliau masih hidup dan sepeninggalnya. (Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, as-Sa’dī, 705). Maka Allah kabulkan doa tersebut sebagaimana Allah berfirman di ayat selanjutnya, 101:

    فَبَشَّرْنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٍ

    Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat santun.

    Nabi Ibrahim a.s. sampai umur 86 tahun belum dikaruniai anak. Kesabarannya yang tinggi dan doa tulusnya, Allah mengabulkan doa beliau dengan mengahadirkan Ismail a.s. (Da’wah ar-Rusul, Ahmad Ghalūsh, 174).  Apa pelajaran yang harus kita ambil dan perhatikan? Pertama, pentingnya kemampuan untuk bersabar. Kedua, pentingnya keturunan yang saleh, yang membawa kebaikan di dunia dan akherat. Maka semestinya sebagai orang tua, orientasi memiliki keturunan bukan sekadar berharap anaknya kelak sukses dan kaya secara duniawi, tapi juga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya kelak saat hidup di dunia maupun ketika sudah meninggal. Nabi Ibrahim adalah seorang visioner. Ia memiliki harapan tinggi memiliki keturunan yang bisa menolong perjuangan dakwahnya, menyeru manusia kepada tauhid, menyeru manusia untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan menebar kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Karena apabila orientasi yang dimiliki orang tua sudah salah dan keliru dalam cara mendidik, maka bukan kebaikan dan kebermanfaatan yang didapatkan, justru bisa berubah menjadi musibah.

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah

    Selanjutnya, di ayat 102 surat as Shaffat,  Allah kisahkan:

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Ketika Ibrahim a.s. merasakan kebahagiaan atas hadirnya sang putera Ismail a.s., sampai sang putera tumbuh berkembang menjadi pemuda, telah nampak kebaikan dan manfaatnya, tiba- tiba Allah memberikan ujian lagi bagi Nabi Ibrahim a.s. lewat mimpi untuk menyembelih putera tercintanya, Ismail a.s.

    Tapi Ibrahim a.s. bukanlah hamba Allah yang terlena dalam euforia kebahagiaan. Ketika datang perintah dari Allah, maka beliau sigap, mengambil sikap sami’nā wa aṭa’nā, kami mendengar dan kami taat, walaupun itu sesuatu yang berat. Mimpi bagi seorang Nabi adalah wahyu. Tetapi ada yang unik jama’ah sekalian, Ibrahim a.s. tidak lantas secara sepihak langsung menyembelih Ismail a.s. Namun, ia menceritakan kronologi perintah penyembelihan terlebih dulu kepada anaknya dan meminta pendapat sang anak,

    قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ

    Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

    Apa pelajaran yang bisa diambil? Pentingnya membangun pola komunikasi yang baik antar orang tua dan anak. Sehingga apa yang saling disampaikan oleh antar anggota keluarga, bisa diterima dan dipahami dengan baik.

    Setelah Nabi Ibrahim menceritakan kronologi perintah penyembelihan dan meminta pendapat Ismail a.s, apa jawab Ismail a.s.:

    قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ  سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

    “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Mari kita lihat ketaatan dan kepatuhan   paripurna kepada Allah yang dipraktikkan oleh keluarga Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalām. mereka rela dan ridha menyanggupi perintah penyembelihan tersebut. Ibrahim adalah sosok ayah yang taat kepada Allah dan bijaksana terhadap anaknya, sedangkan Ismail adalah sosok anak yang taat kepada Allah dan orang tuanya.

    Sebagaimana pula sayyidah Hajar a.s. (istri Nabi Ibrahim a.s.) ketika ditinggal oleh Ibrahim ‘alaihissalām, sendirian bersama Ismail yang masih kecil di sebuah lembah kering, tandus, tak ada mata air dan tanaman. Dikisahkan dalam sebuah riwayat:

    آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ : نَعَمْ قَالَتْ : إِذًا لاَ يُضَيِّعَنَا

    “Apakah Allah yang menyuruhmu untuk ini (meninggalkan istri dan anak)?” Ibrahim menjawab, “Iya.” Istrinya berkata, “Kalau begitu, Allah tidak mungkin menelantarkan kami di lembah ini.” (HR. Al-Baihaqi, 5/ 98)

    Ini menjadi pelajaran pula bagi para laki-laki untuk mempertimbangkan aspek kesalehan wanita ketika mencari istri, bukan sekadar karena kecantikan, nasab dan status sosialnya, dan menjadi pelajaran bagi perempauan agar mereka berusaha dan belajar menjadi wanita salehah.

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah

    Ayat selanjutnnya yaitu, ayat 103- 107 pada surat as Shaffat, Allah melanjutkan kronologi penyembelihan tersebut tadi:

    فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ (103)  وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

    Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah).(103) Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (104) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.(106) Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar (107)

    Walaupun pada awalnya, perintahnya adalah menyembelih Ismail, tapi saat Ibrahim sudah membaringkan Ismail dalam kondisi siap disembelih, tiba- tiba Allah bebaskan dan selamatkan Ismail dari penyembelihan dan Allah ganti dengan seekor Kambing yang besar sebagai tebusannya. (Tafsīr al-Madīnah al-Munawwarah, 2/382). Maka dari peristiwa itulah, diperingatilah sebagai hari Idul Adha, dengan menyembelih binatang qurban sebagai syiar ibadah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala, dan mengingat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalām.

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral mukminin wal mukminat a’azzakumullah

    Sebagai pesan penutup, apa hikmah perintah awal untuk menyembelih Ismail a.s? Kemudian apa hikmah pergantian dan penebusan Ismail a.s. dengan seekor binatang semebelihan?

    Pertama, betapapun cinta dan sayangnya  seorang ayah kepada anaknya, maka cinta yang paling tinggi dan mutlak hanya layak dipersembahkan untuk Allah semata. Rasa cinta dan ridha kepada Allah harus lebih besar dari segalanya, entah itu anak, istri, keluarga, harta, materi, atau yang lainnya. Cinta kepada Allah juga harus dibuktikan lewat pengorbanan dan perbuatan yang konkrit, bukan sekadar lisan, walaupun ia harus mengorbankan sesuatu yang ia cintai dan sukai. Sebagaimana Ibrahim harus rela mengorbankan Ismail demi melaksanakan perintah Allah untuk menggapai ridha-Nya.

    Kedua, digantinya Ismail dengan hewan tebusan sebenarnya menjadi pesan betapa berharga dan terhormatnya nyawa dan kehidupan manusia. Maka haram hukumnya menumpahkan darah orang lain (membunuh) tanpa alasan yang dibenarkan syari’at. Haram pula melakukan kesewenang- wenangan sehingga mengorbankan orang lain. Dari peristiwa penebusan Ismail a.s. tadi, kita tahu bahwa berkurban hanyalah dengan cara menyembelih hewan sembelihan, bukan manusia, dan penyembelihan itu dilakukan karena Allah, serta manfaatnya kembali kepada manusia itu sendiri, sebagai contoh  daging hewan qurban bisa dibagikan kepada orang lain sehingga bermanfaat. (alukah.net, Dr. Shailān Muhammad ‘Alī al-Qardāghī, dengan perubahan redaksi)

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا اِلهَ إلَّا اللهُ، هَوَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

    Ma’asyiral mukminin wal mukminat rahimakumullah,

    Demikian ‘ibrah dari perayaan Idul Adha yang bisa kita petik, untuk kita tanamkan dan terapkan pada diri, keluarga, dan masyarakat. Semoga usaha dan ibadah kita semuanya diberikan taufik dan diterima oleh Allah Ta’ala. Aamiin.

     جَعَلَنَا اللهُ وَإِيّاكُم مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Idul Qurban: Menggali Sejarah dan Aplikasi Nilai- nilai Keteladanan

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023