
Bagi sebagian besar orang Indonesia, kurma identik dengan tekstur lembut, warna cokelat gelap, dan rasa manis yang pekat. Namun, di pesisir utara Afrika, tepatnya di bumi Libya, terdapat harta karun musiman yang mendobrak stigma tersebut. Namanya Ruthab Libya. Berwarna kuning keemasan hingga oranye cerah, buah ini menawarkan pengalaman rasa yang unik, renyah saat digigit, segar, dengan perpaduan rasa manis yang “malu-malu” dan sentuhan sepet (astringent) yang khas di lidah.
Rahasia dari Jantung Oase Al-Jufra
Keistimewaan Ruthab ini bermula dari sebuah wilayah legendaris di Libya Tengah bernama Oase Al-Jufra. Ia ibarat “jantung” di tengah tubuh Libya. Kalau ditarik garis dari Tripoli, ibu kota Libya yang ada di pesisir utara, Al-Jufra posisinya berada di sebelah tenggara Tripoli.
Di sana, daerah seperti Hun, Waddan, dan Sokna menjadi “dapur” utama yang menyumbang sekitar 40% produksi kurma nasional. Al-Jufra memiliki keajaiban iklim mikro yang langka, matahari menyengat ekstrem di siang hari, namun di bawah tanahnya tersimpan cadangan air yang sangat melimpah.
Kondisi tersebutlah yang memaksa pohon kurma menghasilkan buah dengan keseimbangan gula dan air yang presisi. Hasilnya? Kurma yang mencapai fase khalal (kuning renyah) dengan kualitas premium.
Meskipun letaknya terpencil di pedalaman, sekitar 600 kilometer ke arah tenggara dari hiruk pikuk Tripoli dengan waktu tempuh sekitar 6 jam menyisir hamparan gurun, Oase Al-Jufra tetap menjadi urat nadi bagi industri kurma Libya. Jarak tempuh yang jauh melintasi gurun Sahara inilah yang menuntut standar logistik yang tinggi agar setiap butir Ruthab tetap terjaga kesegarannya sampai ke mancanegara
Selain Al-Jufra, wilayah Jalu dan Oase Kufra di tenggara juga turut menjaga reputasi Libya sebagai produsen kurma yang diperhitungkan dunia.

Mengapa Ruthab Libya Begitu Istimewa di Indonesia?
Mungkin kita bertanya, mengapa Ruthab Libya begitu mendominasi pasar Indonesia dibandingkan Ruthab dari Arab Saudi atau Mesir? Jawabannya ada pada karakter buahnya yang “tangguh”.
Meskipun Arab Saudi memiliki varian Barhi yang masyhur, Ruthab Libya memiliki kulit yang lebih kuat dan daging yang lebih padat. Karakter ini sangat krusial karena Ruthab adalah buah “hidup” yang rentan membusuk. Ketangguhan inilah yang membuatnya tetap segar, tidak mudah benyek, dan tidak cepat berair meskipun harus menempuh perjalanan jauh via kargo.
Selain itu, orang Indonesia memiliki selera yang unik. Kita justru mencari sensasi “kres” dan tingkat astringent (sepet) yang pas, sebuah standar yang dijaga ketat oleh petani Libya saat masa panen.
Secara ekonomi, musim panen di Libya sering kali menjadi penyelamat saat pasokan kurma muda dari negara-negara Teluk sedang kosong. Tak heran jika pemerintah Libya kini menjadikan kurma sebagai komoditas ekspor unggulan kedua setelah minyak bumi (Libyan Express, 2024).
Bukan Sekadar Kurma Muda
Ruthab Libya yang kita kenal biasanya berada pada fase khalal. Dalam botani kurma, ini adalah tahap di mana buah telah mencapai ukuran maksimal, teksturnya keras, dan kandungan gulanya mulai muncul namun belum sepenuhnya mencair menjadi madu.
Warna kuning oranye bukan sekadar hiasan, warna ini menandakan konsentrasi flavonoid dan antosianin yang tinggi sebelum buah matang sempurna menjadi cokelat. Inilah yang membuat teksturnya tetap padat dan renyah, tidak lembek seperti kurma yang sudah cokelat matang
Secara tekstur, ia menyerupai apel atau sawo mentah yang berair. Rasa sepetnya berasal dari kandungan tannin yang masih tinggi. Uniknya, justru sensasi “sepet-segar” inilah yang dipercaya oleh masyarakat Timur Tengah sebagai penyeimbang suhu tubuh di cuaca panas.

Sunnah yang Menyegarkan: Pilihan Utama Sang Nabi
Selain keunggulan rasa dan geografisnya, mengonsumsi Ruthab memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Dalam literatur hadis, Ruthab adalah prioritas utama Rasulullah ﷺ saat berbuka puasa, melebihi kurma kering (tamr) maupun air putih.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasanya berbuka puasa dengan beberapa biji ruthab (kurma basah/segar) sebelum shalat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa biji tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, maka beliau meminum beberapa teguk air. (HR. Abu Daud, no. 2356, at-Tirmidzi, no. 696, Ahmad, no. 12676. Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (4/300) menyebutkan bahwa hadis ini memiliki jalur penguat).
Pilihan ini bukan tanpa alasan, karena kesegaran air dan glukosa alami dalam sebutir Ruthab adalah cara terbaik mengembalikan energi tubuh yang hilang secara instan namun lembut bagi lambung. Secara medis, pilihan nabawi ini sangat logis. Setelah belasan jam berpuasa, lambung membutuhkan asupan yang kaya air dan gula alami yang mudah diserap tanpa membebani kerja pencernaan. Ruthab, dengan kadar air 50-70%, hadir sebagai jawaban sempurna atas kebutuhan tersebut. Ia menghidrasi sekaligus memberi energi instan sebelum menunaikan shalat Maghrib.
Anatomi Nutrisi: Lebih dari Sekadar Energi
Secara ilmiah, Ruthab Libya bukan hanya camilan pelepas dahaga. Kandungan nutrisinya sangat krusial bagi kesehatan saraf dan pencernaan:
Bagi para ibu hamil, Ruthab sering menjadi incaran karena dipercaya membantu kelancaran persalinan melalui kandungan hormon serupa oksitosin yang merangsang kontraksi rahim secara alami (Al-Kuran et al., 2011).

Ingin Merasakan Kesegaran Ruthab Libya Langsung di Meja Anda?
Mendapatkan Ruthab Libya dengan kualitas fresh dan terjaga suhunya memang gampang-gampang susah. Namun, bagi para pencinta kurma sejati, kualitas adalah nomor satu. Jika Anda ingin mencicipi sensasi renyah dan segarnya Ruthab Libya asli, Anda bisa mendapatkannya melalui koleksi pilihan di Markas Kurma 18 A. Kami memastikan setiap butir kuning keemasannya sampai ke tangan Anda dalam kondisi terbaik. (Ak/redaksi)
Referensi:
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Menyesap Segarnya Ruthab Libya: Sensasi Renyah di Antara Manis dan Sepet