Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I.
Sholat Khusuf adalah istilah untuk sholat gerhana bulan dalam bahasa Arab. Ibadah tersebut merupakan salah satu syiar agung dalam Islam, yang disyariatkan ketika terjadi ayat-ayat kauniyyah yang menggetarkan, seperti gerhana bulan.
Ia adalah peringatan bagi hamba-hamba Allah akan kekuasaan dan kebesaran-Nya, serta sebagai ajakan yang jelas untuk bertaubat, kembali, dan berserah diri kepada-Nya. Nabi yang mulia ﷺ telah menjelaskan tata cara pelaksanaannya, serta membimbing umat agar menyertai ibadah tersebut dengan doa, sedekah, dan istighfar.
Semua ini menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak ada kaitannya dengan kematian dan kehidupan seseorang, atau kejadian mistis tertentu, melainkan murni merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang semestinya mendorong manusia untuk bertafakkur dan khusyuk.
Allah ﷻ berfirman,
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan semuanya, jika memang kepada-Nya kalian menyembah.” (QS. Fuṣṣilat: 37)
Makna dari firman Allah {وَاسْجُدُوا لِلَّهِ} adalah: dirikanlah shalat untuk Allah. Ayat ini menegaskan bahwa matahari dan bulan hanyalah makhluk Allah, bukan sesembahan. Maka ibadah termasuk shalat saat terjadi gerhana hanya ditujukan kepada Allah semata.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah (HR. Bukhari, no. 986)
Hadis ini menerangkan bahwa gerhana bukanlah tanda nasib baik atau buruk bagi manusia tertentu, melainkan tanda kekuasaan Allah ﷻ.
Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan untuk menyikapinya dengan ibadah, berdoa, bertakbir, shalat, memperbanyak istighfar, dan bersedekah.
Hukum Sholat Khusuf (Gerhana Bulan)
Sholat khusuf (shalat gerhana bulan) hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan) yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Jika terlewat, maka tidak ada qadha baginya, karena hilangnya sebab yang menjadi dasar disyariatkannya.
Apabila gerhana sudah selesai (bulan kembali normal atau terlihat terang) di tengah-tengah shalat, maka shalat tersebut tidak batal, dan para jamaah tetap melanjutkannya hingga sempurna dan selesai. Sholat gerhana tersebut tetap sah.
Tata Cara Pelaksanaan Sholat Khusuf
Yang lebih utama dalam shalat gerhana adalah dilaksanakan berjama’ah di masjid, namun boleh juga dilakukan secara sendirian di rumah bila ada uzur menghadiri jamaah. Shalat ini dilaksanakan dengan bacaan jahr (bacaan dikeraskan).
Al-Muwaffaq Ibnu Qudāmah رحمه الله berkata dalam kitab al-Mughnī[1]:
الكُسُوفُ والخُسُوفُ شىْءٌ واحِدٌ، وكِلَاهُما قد وَرَدَتْ به الأخْبارُ، وجاءَ القُرْآنُ بِلَفْظِ الخُسُوفِ
ولأنَّها نافِلَةٌ، فجازَتْ في الانْفِرَادِ، كَسائِرِ النَّوافِلِ. وإذا ثَبَتَ هذا فإنَّ فِعْلَها في الجَماعَةِ أفْضَلُ؛ لأنَّ النَّبِىَّ -صلى اللَّه عليه وسلم- صَلَّاها في جَمَاعَةٍ، والسُّنَّةُ أنْ يُصَلِّيَها في المَسْجِدِ؛ لأنَّ النَّبِىَّ -صلى اللَّه عليه وسلم- فَعَلَها فيه.
قالت عائشةُ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ في حَياةِ رَسُولِ اللهِ -صلى اللَّه عليه وسلم-، فخَرَجَ إلى المَسْجِدِ، فَصَفَّ النّاسُ وَرَاءَه. (رَوَاهُ البُخَارِىُّ)
“Kusūf dan Khusūf adalah satu hal yang sama. Keduanya disebutkan dalam hadis-hadis, sedangkan Al-Qur’an menyebutnya dengan lafaz khusūf……..”
“Dan karena shalat gerhana termasuk shalat nafilah (sunnah), maka boleh dikerjakan sendirian, sebagaimana shalat sunnah lainnya. Jika demikian, maka pelaksanaannya secara berjamaah lebih utama, karena Nabi ﷺ melaksanakannya dengan berjamaah. Sunnahnya adalah melaksanakan shalat gerhana di masjid, karena Nabi ﷺ melaksanakannya di masjid.
‘Āisyah r.a. berkata: ‘Matahari pernah mengalami gerhana pada masa hidup Rasulullah ﷺ, lalu beliau keluar menuju masjid, kemudian orang-orang berbaris shalat di belakangnya.’ (HR. al-Bukhārī, no. 1046).”
Shalat gerhana terdiri dari dua rakaat, dan dalam setiap rakaat terdapat dua kali rukuk. Ini yang masyhur diketahui. Secara ringkas dan rinci bisa dijelaskan sebagai berikut;
Disunnahkan untuk bertahap dalam panjang bacaan, bacaan sebelum rukuk pertama dipanjangkan, bacaan sebelum rukuk kedua agak lebih pendek dari pada bacaan sebelum rukuk pertama, demikian pula seterusnya sampai rakaat kedua. Demikian pula dalam ruku’ dan sujud disunnahkan untuk dilamakan.
Hal tersebut sesuai dengan hadis dari Ummul Mukminin Aisyah r.a. sebagai berikut,
خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ ﷺ بِالنَّاسِ، فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ، وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الْأُولَى، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدِ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ
ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
ثُمَّ قَالَ: يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ، أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ، لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri lama, kemudian rukuk lama. Lalu beliau berdiri kembali dengan berdiri yang panjang, namun tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan rukuk yang panjang, namun tidak selama rukuk yang pertama. Setelah itu beliau sujud lama.
Pada rakaat kedua, beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan pada rakaat pertama. Lalu beliau selesai, dan matahari telah terang kembali. Setelah itu beliau berkhutbah kepada manusia, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda:
‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat hal itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.’
Kemudian beliau bersabda:
‘Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari pada Allah ketika hamba laki-lakinya berzina atau hamba perempuannya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” (HR. Bukhari, no. 1044, Muslim, no. 1507)
Disunnahkan mandi untuk shalat gerhana, sebagaimana halnya setiap pertemuan besar kaum Muslimin seperti shalat ‘Id.
Disunnahkan setelah shalat (khusuf) adanya khutbah atau nasihat kepada jama’ah, berbeda dengan orang yang shalat sendirian. Dalam khutbah itu, khatib menganjurkan para pendengar untuk berbuat kebaikan, seperti bertaubat, bersedekah, dan semisalnya, serta memperbanyak doa dan istighfar.
Referensi:
[1] al-Mughnī, 3/312-314
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Sholat Khusuf dan Ringkasan Tata Caranya