
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I. (Dosen Fakultas Ushuluddin Institut Darul Fattah)
Bagi seorang Muslim, kalimat (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ) Bismillahirrahmanirrahim jelas tidak asing di telinga. Tapi kalau kita bedah dari sudut pandang bahasa Arab, empat kata sederhana ini sebenarnya disusun dengan struktur yang luar biasa presisi.
Kali ini kita akan bedah rahasia di balik tiap kata dalam Basmalah agar kita lebih paham apa yang sebenarnya kita ucapkan.
Coba perhatikan, kenapa Basmalah diawali huruf Ba (ب) dan bukannya langsung menyebut kata “Allah”?
Dalam tata bahasa Arab (nahwu), huruf Ba di sini berfungsi sebagai kata hubung (huruf jar). Terdapat dua fungsi utama dari penempatan huruf ini di awal kalimat:
Secara struktur sintaksis (susunan tata bahasa dalam kalimat), kata kerja utamanya disembunyikan (hadzf al-fi’l) dan tidak diucapkan secara langsung.
Hal ini terjadi karena konteks perbuatan pengucapnya sudah cukup menjadi penjelas. Ketika seseorang mengucapkannya saat hendak membaca, secara otomatis kalimat itu bermakna “Aku membaca dengan menyebut nama Allah.” Ketika diucapkan saat hendak berdiri atau duduk, maknanya menjadi “Aku berdiri/duduk dengan menyebut nama Allah.”
Penempatan nama Allah di depan bertujuan untuk mendahulukan pengagungan kepada-Nya sebelum menyebutkan aktivitas yang dilakukan oleh manusia, sekaligus menegaskan bahwa setiap aktivitas manusia sejatinya terjadi atas izin dan pertolongan Allah.
Jika setiap aktivitas manusia sejatinya terjadi atas izin dan pertolongan Allah, mengapa kita mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” (Dengan menyebut nama Allah…), dan bukan langsung “Billahirrahmanirrahim” (Dengan Allah…)?
Ath-Thabari menjelaskan bahwa penambahan kata Ism (Nama) bertujuan untuk memulai dan menghiasi setiap aktivitas dengan penyebutan (tasmiyah) serta pengingatan (dzikr) kepada Allah terlebih dahulu.
Hal ini sejalan dengan riwayat dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu– (melalui jalur Adh-Dhahhak) ketika menjelaskan momen pertama Malaikat Jibril mengajarkan Basmalah kepada Nabi Muhammad ﷺ:
قُلْ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قُلْ بِسْمِ اللَّهِ يَا مُحَمَّدُ ، يَقُولُ : اِقْرَأْ بِذِكْرِ اللَّهِ رَبِّكَ، وَقُمْ وَاقْعُدْ بِذِكْرِ اللَّهِ
“Ucapkanlah Bismillahirrahmanirrahim, ucapkanlah bismillah wahai Muhammad,” (Jibril berkata): “Bacalah dengan mengingat Allah Tuhanmu, berdirilah dan duduklah dengan mengingat Allah!”
Maksudnya: Bacalah dengan menyebut dan mengingat Rabb-mu, serta berdirilah dan duduklah dengan senantiasa mengingat Allah.
Kata kedua adalah Allah (اللَّهِ), yang berposisi sebagai Ism ‘Alam (nama khusus) bagi Sang Pencipta.
Dari sisi etimologi, mayoritas ahli bahasa berpendapat bahwa kata Allah berakar dari kata Al-Ilah (الإله), yang berasal dari kata aliha – ya’lahu. Artinya adalah menyembah atau mengabdi.
Nama Allah memiliki keistimewaan yang sangat eksklusif. Sepanjang sejarah bahasa Arab, kata ini tidak pernah digunakan untuk menamai entitas lain, tidak memiliki bentuk jamak, dan secara khusus hanya disematkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata ketiga adalah Ar-Rahman (الرَّحْمَنِ). Dalam kaidah morfologi Arab (sharaf), kata ini menggunakan pola (wazan) Fa’lan (فَعْلَان). Pola ini berfungsi untuk menunjukkan sifat yang melimpah, penuh, dan berkapasitas sangat luas.
Secara makna tafsir, Ar-Rahman mengacu pada sifat kasih sayang Allah yang bersifat umum. Kasih sayang ini dialirkan kepada seluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali, baik manusia yang beriman maupun tidak, malaikat, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk lainnya.
Sebagaimana lafal Allah, nama Ar-Rahman juga bersifat eksklusif dan tidak boleh digunakan sebagai nama bagi manusia.
Kata terakhir adalah Ar-Rahim (الرَّحِيمِ). Kata ini menggunakan pola Fa’il (فَعِيل), yang berfungsi sebagai sifat musyabbahah untuk menunjukkan sifat yang kontinu, berkesinambungan, dan sampai kepada objeknya.
Perbedaan utama antara Ar-Rahman dan Ar-Rahim dapat dipahami sebagai berikut:
| Parameter | Ar-Rahman (الرَّحْمَنِ) | Ar-Rahim (الرَّحِيمِ) |
| Pola Morfologi | Fa’lan (Kapasitas melimpah) | Fa’il (Kontinuitas dan penyampaian) |
| Kategori Sifat | Sifat Dzat (Washf Dzati) | Sifat Perbuatan (Washf Fi’li) |
| Cakupan Subjek | Umum (Seluruh makhluk di bumi) | Khusus (Orang-orang beriman) |
Membaca Basmalah bukan sekadar tradisi lisan atau formalitas semata. Kalimat ini mengajarkan manusia untuk senantiasa menyertakan dimensi ketuhanan dalam setiap aktivitas, menyadari keterbatasan diri, dan meyakini kelimpahan rahmat Allah dalam setiap langkah kehidupan.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Mengulas Struktur Basmalah: Kenapa Kalimat Ini Sangat Menakjubkan?