
Oleh: Dr. H. Abdul Amin, Lc., MA (Dosen Agama Islam STAN Jakarta)
الْـحَمْدُ لِلَّهِ، الْـحَمْدُ لِلَّهِ،نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ لِلْأُمَّةِ، فَكَشَفَ اللَّهُ بِهِ الْغُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِينُ، وَتَرَكَنَا عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، أَيْ الطَّرِيقَةِ الْوَاضِحَةِ، وَهِيَ دِينُ الْإِسْلَامِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.؛ أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ، أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهُ تَعَالَى قَالَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran, ayat 102)
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dari mimbar ini khatib berpesan bagi diri khatib pribadi dan bagi jamaah sekalian agar kita senantiasa memelihara ketakwaan kita dengan melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dalam memakmurkan kehidupan di dunia ini sebagai khalifah, manusia berinteraksi dengan sesamanya agar terbangun bangunan umat yang kokoh. Interaksi antara sesama mereka akan berjalan dengan baik bila dilandasi dengan akhlak karimah (adab dan perilaku yang mulia). Oleh karenanya, Ahmad Syauqi, seorang penyair Arab mengungkapkan,
إنما الأمم الأخلاق ما بقيت، فإن هم ذهبت أخلاقهم ذهبوا
“Sesungguhnya keberlangsungan (dan kelanggengan) bangsa-bangsa itu bertahan selama akhlak mulia masih ada (dan dijunjung tinggi). Bila akhlak mulia mereka telah sirna, maka sirnalah mereka.”
Akhir-akhir ini, acapkali kita baca, dengar, bahkan kita saksikan melalui media informasi betapa banyak kekerasan dan kejahatan terjadi di tengah masyarakat. Manusia bisa berubah menjadi amat buas terhadap sesamanya. Akal sehat seakan tidak bisa mengendalikan perilaku rusak manusia. Yang kuat menikam dan menghisap darah yang lemah. Maka pada kesempatan khutbah Jum’at yang singkat ini, khatib al-faqir akan membahas tentang sifat lembut dan mengasihi orang yang lemah semoga bisa kembali mengetuk akal sehat dan hati nurani agar senantiasa berakhlak yang mulia.
a. Kelembutan dan Belas Kasih Itu Tidak Membeda-bedakan Status
Sikap atau perilaku kasar seringkali muncul lantaran seseorang membeda-bedakan perlakuan sesuai status atau kedudukan orang lain. Yang kaya begitu dihormati, yang berkuasa amat disegani dan dipuji, sementara yang lemah dan miskin dipandang sebelah mata. Syekh Muhammad Sayid Thanthawi menyebutkan di dalam kitab beliau at-Tafsir al-Wasith bahwa pada suatu saat para pemuka dan petinggi Quraisy datang hendak menemui Rasulullah saw. Mereka meminta beliau seorang diri saja duduk menemui mereka tanpa mengikutsertakan para sahabat beliau yang lemah dan miskin seperti Bilal, ‘Ammar, dan Ibnu Mas’ud. Mereka meminta kepada beliau agar tempat mereka dispesialkan dan dikhususkan. Lalu Allah swt. menurunkan wahyu,
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.(Q.S. Al Kahfi ayat 28)
Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi menjelaskan,
عليك- أيها الرسول الكريم- أن تحبس نفسك وتعودها على مجالسة أصحابك الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ أى: يعبدونه ويتقربون إليه بشتى أنواع القربات، في الصباح والمساء، ويداومون على ذلك، دون أن يريدوا شيئا من وراء هذه العبادة، سوى رضا الله- تعالى- عنهم ورحمته بهم. وقوله- سبحانه- وَلا تَعْدُ عَيْناكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَياةِ الدُّنْيا.. نهى له صلى الله عليه وسلم- عن الغفلة عنهم، بعد أمره بحبس نفسه عليهم. أى: احبس نفسك مع هؤلاء المؤمنين الصادقين الذين يدعون ربهم بالغداة والعشى يريدون وجهه- سبحانه- ولا تصرف عيناك النظر عنهم، وتتجاوزهم إلى غيرهم من الأغنياء، طمعا في إسلامهم. فالمراد بإرادة الحياة الدنيا الحرص على مجالسة أهل الغنى والجاه حبا في إيمانهم.
Ayat tersebut di atas bermakna, “Wahai Rasul yang mulia, engkau seharusnya bersabar menahan dirimu dan membiasakan dirimu bergaul dengan para sahabatmu yang beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal ibadah di pagi dan petang hari, mereka senantiasa melakukan yang demikian tanpa maksud ingin memperoleh apa-apa di balik ibadah mereka selain keridaan Allah dan kasih sayang-Nya. Firman Allah “dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini” maksudnya Rasulullah ﷺ dilarang oleh Allah agar jangan sampai lalai dan mengabaikan para sahabat yang konsisten dalam beribadah itu. Jadi maksud ayat itu adalah tahanlah dirimu (bersabarlah) bersama mereka yang beriman dan tulus yang beribadah kepada Tuhan mereka pada pagi dan petang hari hanya karena mencari keridaan-Nya, janganlah engkau memalingkan pandanganmu dari mereka lalu mengarahkannya kepada orang-orang (kafir) yang kaya raya lantaran menginginkan keimanan mereka. Yang dimaksud dengan menginginkan kehidupan dunia adalah keinginan yang amat besar untuk membersamai orang-orang (kafir) yang kaya raya dan berkedudukan demi mengharapkan mereka masuk Islam.”
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Ayat ini memberikan pesan bahwa kelembutan dan belas kasih itu adalah tidak membeda-bedakan status manusia, juga mengesankan bahwa untuk mengetahui perilaku asli seseorang, perhatikanlah bagaimana cara ia memperlakukan orang yang lebih lemah darinya, bukan bagaimana cara ia memperlakukan orang yang lebih kaya dan lebih tinggi kedudukannya. Bila kita bersikap baik dan lemah lembut hanya kepada orang yang kaya dan berkedudukan saja sedangkan kepada si miskin dan orang lemah kita bersikap tidak baik, maka kita tidak ubahnya hanyalah sebagai para penjilat yang berbuat baik hanya karena motif dan kepentingan mencari keuntungan duniawi semata.
b. Kelembutan dan Belas Kasih Itu Tidak Mengolok-olok
Kekerasan dan kekasaran seringkali lahir dari sikap suka merendahkan dan mengolok-olok orang lain atau membuly. Kelembutan dan belas kasih membuat seorang insan selalu menghargai sesama manusia sehingga tidak akan mudah mengolok-olok mereka. Pada suatu saat, beberapa orang dari Bani Tamim mengolok-olok Bilal, Salman, ‘Ammar, dan Khabbab karena kondisi mereka kemiskinan dan tampilan mereka yang lusuh. Lalu Allah ﷻ menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
Dewasa ini, betapa kita sadari bahwa kita amat memerlukan kelembutan dan belas kasih terhadap sesama sehingga lahirlah sikap saling menghargai yang dapat menutup aneka pintu kekerasan dan kejahatan. Ayat di tersebut atas mengesankan bahwa bila seseorang bergabung dengan suatu kelompok dan ia fanatik terhadap kelompok itu, maka potensi untuk merendahkan orang-orang lain yang berada di luar kelompoknya menjadi amat besar. Jadi fanatisme terhadap suatu golongan memang acapkali memicu kekerasan dan keburukan sikap. Seorang yang memiliki hati yang lembut dan rasa belas kasih tidak mengolok-olok dan merendahkan orang lain.
c. Kelembutan dan Belas Kasih Itu Memadukan dalam Kesetaraan
Seorang hamba yang memiliki hati yang lembut dan rasa belas kasih kepada orang lain tidak akan menilai dan menghargai seseorang hanya karena keturunannya yang dipandang mulia, karena sukunya yang dianggap hebat, tidak pula karena bangsanya atau warna kulitnya. Ia akan memandang sesama manusia sebagai makhluk Allah yang dilahirkan dari nenek moyang yang sama, yaitu nabi Adam dan sayyidatuna Hawa.
Di dalam At-Tafsir al-Wasith, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi menyebutkan bahwa pada suatu saat, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bani Bayadhah agar menikahkan seorang wanita mereka kepada Abu Hind, seorang juru bekam Rasulullah ﷺ. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan menikahkan anak-anak wanita kami kepada budak-budak kami?” Lalu Allah ﷻ menurunkan firman-Nya kepada Rasulullah ﷺ:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat, ayat 13)
Kaum muslimin yang dirahmati Allah. Pada hakikatnya, manusia di hadapan Allah ﷻ adalah sama dan setara, walau berbeda warna kulit, suku, dan bangsanya. Hanya ketakwaan kepada Allah ﷻ yang membedakan kedudukan mereka di hadapan Allah. Oleh karenanya, kita harus memandang sesama kita dengan kelembutan dan belas kasih dalam ikatan kemanusiaan dan keimanan tanpa memandang warna kulit, suku, dan bangsanya. Musibah kemanusian seharusnya selalu mengetuk hati nurani kita untuk memberikan bantuan dan pertolongan. Apabila kelembutan dan belas kasih menjadi perilaku setiap insan, maka interaksi sosial akan berjalan dengan baik sehingga terwujudlah bangunan masyarakat yang kokoh, bersatu tanpa perpecahan, serta saling tolong-menolong. Semoga Allah ﷻ. menganugerahkan kepada kita semua akhlak yang mulia yang diridainya. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.
| Penulis Naskah: Ust. Dr. H. Abdul Amin, Lc., MADesain Layout:MUSVIN.comTerbit atas Kerjasama: AHLA Institute & DKM Jami’ Al-Hidayah, VPMDiperbanyak oleh:DKM Al- Hidayah, Komplek Villa Pejaten Mas, Jl. Pejaten Mas Raya, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12520 |
بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah Kedua
الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين. الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله وافعلوا الخيرات واجتنبوا السيئات والمنكرات، واعلموا أن المتقين في معية الله تعالى، قال تعالى: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (سورة النحل، آية: 128)؛ قال الله سبحانه وتعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. (سورة الأحزاب، آية: 56)؛ اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وعلى التابعين وعلى تابعي التابعين من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وعلينا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات، يا قاضي الحاجات ويا كافي المهمات؛ اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وَأَصْلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصْلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير، واجعل الموت راحة لنا من كل شر؛ اللهم إنا عبادك وبنو عبادك وبنو إمائك، نواصينا بيدك، ماض فينا حكمك، عدل فينا قضاؤك، نسألك بكل اسم هو لك، سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك، أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا، وذهاب همومنا؛ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ، اللَّهم إني أسألك أن تمنّ علينا وعلى والدينا وأوْلادنا وآل بيتنا ومشايخنا وأقاربنا وأصدقائنا، وعلى جميع المؤمنين والمؤمنات بعفوك وغفرانك، ورحمتك ورضوانك. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار؛ اللهم إنا نسألك بأننا نشهد أنك أنت الله لا إله إلا أنت الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد. اللهم إنا نسألك أن ترحمنا وتغفر لنا ذنوبنا؛ وصلّى الله على سيدنا محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين والحمد لله رب العالمين. عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. (سورة النحل، آية:90) فاذكروا الله العظيم يذكركم، واسألوه من فضله يعطكم، وادعوه يستجب لكم، ولذكر الله أكبر. أقيموا الصلاة
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Akhlak Mulia: Lembut dan Mengasihi yang Lemah