
Pertanyaan dari Ibu Anih:
Ustadz, saya sering bepergian ke luar kota dengan menggunakan transportasi umum seperti kereta ataupun bus. Kadang kalau waktu sholat tiba, saya belum sampai di tempat tujuan dan tidak bisa sholat berdiri. Sedangkan saya pernah baca buku agama kalau rukun sholat itu salah satunya berdiri. Apakah saya diperbolehkan melaksanakan sholat dalam posisi duduk?
Jawaban:
Ibu Anih yang kami hormati, pada asalnya sholat adalah ibadah yang dibatasi oleh ketentuan-ketentuan tertentu yang berkaitan dengan waktu, tempat, dan tata caranya. Memang salah satu masalah fikih kontemporer yang berulang ditanyakan oleh masyarakat berkaitan dengan sholat bagi musafir adalah sholat di sarana transportasi modern, seperti kereta, bus, ataupun pesawat.
Ibu tidak perlu khawatir. Islam juga memberikan kemudahan bagi umatnya dalam kondisi tertentu, termasuk ketika dalam perjalanan atau dalam situasi yang menyulitkan sholat secara normal. Sholat boleh dilakukan sambil duduk, bila berdiri tidak memungkinkan, baik karena sakit, lemah, tidak ada tempat yang cukup, sempitnya tempat, tidak memungkinkan untuk berhenti dan turun dari kendaraan saat di perjalanan, atau sulitnya pergerakan ketika berada di kendaraan umum seperti yang ibu alami.
Allah Ta’ala berfiman,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya (orang tersebut)” (Q.S. Al Baqarah (2): 286)
Seorang muslim dituntut untuk melaksanakan apa yang mampu ia lakukan dari perintah-perintah syariat, dengan cara yang ia sanggupi, tanpa paksaan atau kesulitan. Demikian pula orang yang hendak melaksanakan sholat, apabila tidak mampu sholat dengan berdiri, atau ada uzur (halangan) yang menghambatnya untuk berdiri dan mengerjakan semua rukun secara sempurna, maka ia sholat sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya, dan Allah tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak ia sanggupi.
Lebih khusus lagi, ada dalil dari hadis Nabi ﷺ yang mana beliau ﷺ bersabda,
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Sholatlah dengan berdiri, jika engkau tidak mampu maka dengan duduk, jika engkau tidak mampu maka berbaring” (HR. Bukhari, no. 1050)
Hadis ini menunjukkan perintah duduk untuk melaksanakan shalat fardhu bagi orang yang tidak mampu atau tidak memungkinkan untuk berdiri. Dan duduk di sini boleh dilakukan di lantai, boleh juga di kursi, karena tidak ada penegasan khusus dalam hadis ini mengenai cara duduk, kecuali sebatas pemahaman dan pengertian.
Dalam beberapa kitab fatwa dan fikih juga disebutkan permasalahan tentang sholat di atas kendaraan sebagaimana berikut;
يصح الفرض على الراحلة واقفة أو سائرة؛ خشية التأذي بوحل أو مطر ونحوه؛ لقول يعلى بن مرة رضي الله عنه: «انتهى النبي صلى الله عليه وسلم إلى مضيق هو وأصحابه وهو على راحلته والسماء من فوقهم والبلة من أسفل منهم، فحضرت الصلاة فأمر المؤذن فأذن وأقام، ثم تقدم النبي صلى الله عليه وسلم فصلى بهم؛ يعني إيماء، يجعل السجود أخفض من الركوع » رواه أحمد والترمذي2 وقال: العمل عليه عند أهل العلم. انتهى
وكذا يصح الفرض على الراحلة إذا خاف انقطاعا عن رفقته بنزوله، أو على نفسه من عدو، أو عجز عن ركوب إن نزل، وعليه الاستقبال إن قدر عليه، وعليه أن يركع ويسجد، ويجعل سجوده أخفض من ركوعه؛ للحديث المذكور، ولعموم قوله تعالى: {فَاتَّقُوااللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} (٢)
Sah melaksanakan shalat fardhu di atas kendaraan, baik ketika berhenti maupun berjalan, bila dikhawatirkan terkena lumpur, hujan, atau semisalnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Ya‘la bin Murrah ra.: ‘Nabi ﷺ bersama para sahabatnya sampai di suatu jalan yang sempit, beliau berada di atas tunggangannya, sementara hujan turun dari atas dan tanah becek di bawah mereka. Waktu shalat pun tiba, lalu beliau memerintahkan muadzin untuk adzan dan iqamah. Kemudian Nabi ﷺ maju untuk shalat bersama mereka dengan isyarat, menjadikan sujud lebih rendah daripada rukuk.’ (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dan ia berkata: ‘Inilah yang diamalkan oleh para ulama.’)
Demikian pula sah shalat fardhu di atas tunggangan jika khawatir terputus dari rombongan bila turun, atau khawatir terhadap keselamatan dirinya karena musuh, atau tidak mampu lagi naik tunggangan bila turun. Maka ia wajib menghadap kiblat jika mampu, dan ia harus rukuk dan sujud (dengan isyarat) dengan menjadikan sujud lebih rendah daripada rukuk, berdasarkan hadits di atas serta keumuman firman Allah Ta‘ala;
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian” (QS. At Taghabun (64) ayat 16)
وَقَدْ عَدَّدَ الْفُقَهَاءُ الأَْعْذَارَ الَّتِي تُبِيحُ الصَّلاَةَ عَلَى الرَّاحِلَةِ. وَمِنْ ذَلِكَ: الْخَوْفُ عَلَى النَّفْسِ أَوِ الْمَال مِنْ عَدُوٍّ أَوْ سَبُعٍ، أَوْ خَوْفِ الاِنْقِطَاعِ عَنِ الرُّفْقَةِ، أَوِ التَّأَذِّي بِالْمَطَرِ وَالْوَحْل؛ فَفِي مِثْل هَذِهِ الأَْحْوَال تَجُوزُ صَلاَةُ الْفَرِيضَةِ عَلَى الرَّاحِلَةِ بِالإِْيمَاءِ مِنْ غَيْرِ رُكُوعٍ وَسُجُودٍ؛ لأَِنَّ عِنْدَ اعْتِرَاضِ هَذِهِ الأَْعْذَارِ عَجْزًا عَنْ تَحْصِيل هَذِهِ الأَْرْكَانِ
Para fuqaha telah merinci beberapa uzur yang membolehkan shalat di atas tunggangan. Di antaranya: takut terhadap keselamatan jiwa atau harta dari musuh atau binatang buas, takut terpisah dari rombongan, atau adanya gangguan dari hujan dan lumpur. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, boleh melaksanakan shalat fardhu di atas tunggangan dengan isyarat tanpa rukuk dan sujud secara sempurna, karena adanya halangan tersebut membuat seseorang tidak mampu melaksanakan rukun-rukun itu dengan sempurna
الواجب على المسلم في الطائرة إذا حضرت الصلاة أن يصليها حسب الطاقة، فإن استطاع أن يصليها قائمًا ويركع ويسجد فعل ذلك، وإن لم يستطع صلى جالسًا وأومأ بالركوع والسجود. فإن وجد مكانًا في الطائرة يستطيع فيه القيام والسجود في الأرض بدلًا من الإيماء وجب عليه ذلك لقول الله سبحانه: {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} [التغابن: ١٦]
وحكم السيارة والقطار والسفينة حكم الطائرة
Kewajiban seorang Muslim yang berada di pesawat, apabila waktu shalat tiba, adalah menunaikannya sesuai dengan kemampuan. Jika ia mampu shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud, maka ia lakukan. Jika tidak mampu, maka ia shalat dengan duduk dan berisyarat untuk rukuk dan sujud. Namun, jika ia mendapatkan tempat di pesawat yang memungkinkan untuk berdiri dan sujud di lantai sebagai ganti dari berisyarat, maka wajib baginya melakukannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhānahu wa Ta‘ālā;
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian” (QS. At Taghabun (64) ayat 16)
Hukum (shalat) di mobil/ bus, kereta, dan kapal sama dengan hukum (shalat) di pesawat.
تصح الصلاة على الطائرة وهي تطير في الجو، كما تصح الصلاة على الباخرة والسفينة ونحوها، وهذا أشبه بحال الضرورة؛ لأنه لا يستطيع إيقافها ولا النزول لأداء الصلاة، ولا يجوز تأخير الصلاة عن وقتها بحال، وكما تصح الصلاة على السيارة إذا جد به السير ولم يتمكن الراكب من إلزام السائق بإيقاف السيارة وخشي خروج الوقت، فإنه يصلي قبل خروج الوقت ويفعل ما يستطيع عليه. ثم إذا صلى الإنسان في الطائرة ونحوها فإن استطاع أن يصلي قائما ويركع ويسجد لزمه ذلك في الفريضة، وإلا صلى على حسب حاله وأتى بما يقدر عليه من ذلك، كما يلزمه استقبال القبلة حسب استطاعته، وكلما دارت انحرف إلى القبلة إذا كانت الصلاة فرضا، وأما القصر والفطر فهذه من رخص السفر، فإذا سافر الإنسان مسافة قصر فأكثر جاز له أن يستبيح رخص السفر، سواء قطعها في مدة قليلة أو طويلة
Shalat di pesawat ketika sedang terbang di udara sah, sebagaimana sah pula shalat di kapal laut, perahu, dan sejenisnya. Hal ini mirip dengan keadaan darurat; karena ia tidak bisa menghentikan kendaraan itu dan tidak dapat turun untuk melaksanakan shalat. Dan tidak boleh menunda shalat dari waktunya dalam kondisi apa pun. Demikian juga sah shalat di mobil apabila laju perjalanannya mendesak dan penumpang tidak bisa memaksa sopir untuk menghentikan kendaraan, serta khawatir waktu shalat akan habis. Maka ia harus shalat sebelum waktunya habis dan melakukan sesuai dengan kemampuan yang ada.
Kemudian, apabila seseorang shalat di pesawat atau kendaraan sejenisnya, maka jika ia mampu shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud, ia wajib melakukannya dalam shalat fardhu. Jika tidak mampu, maka ia shalat sesuai kondisinya dan melakukan sebatas yang ia mampu. Ia juga wajib menghadap kiblat sesuai kemampuannya, dan setiap kali kendaraan itu berbelok, ia pun ikut menghadap kiblat jika itu shalat fardhu.6
Adapun qashar (mengurangi jumlah rakaat) dan berbuka (tidak berpuasa), keduanya termasuk keringanan dalam safar. Jika seseorang bepergian dengan jarak yang membolehkan qashar, maka boleh baginya mengambil rukhsah (keringanan) safar, baik jarak itu ditempuh dalam waktu singkat maupun lama
ومن كان راكباً على دابة، ولا يمكنه أن ينزل عنها لخوف على نفسه أو ماله، أو لخوف من ضرر يلحقه بالانقطاع عن القافلة، أو كان بحيث لو نزل عنها لا يمكنه العودة إلى ركوبها ونحو ذلك؛ فإنه يصلي الفرض في هذه الأحوال على الدابة إلى أي جهة يمكنه الاتجاه إليها، وتسقط عنه أركان الصلاة التي لا يستطيع فعلها، ولا إعادة عليه
Barang siapa berada di atas tunggangan, dan ia tidak bisa turun karena takut terhadap keselamatan dirinya atau hartanya, atau karena takut bahaya yang mungkin menimpanya seperti terputus dari rombongan, atau jika turun ia tidak bisa kembali menaiki tunggangan, dan sejenisnya, maka dalam keadaan seperti ini ia shalat fardhu di atas tunggangan ke arah yang bisa ia arahkan. Rukun-rukun shalat yang tidak mampu ia lakukan gugur darinya, dan tidak perlu diulang.
Demikian jawaban beserta penjelasan atas pertanyaan ibu Anih. Mudah-mudahan bermanfaat dan memberikan pencerahan bagi ibu Anih dan para pembaca.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Hukum Sholat dalam Keadaan Duduk di Kereta atau Bus