KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Muhasabah » Rajab Bulan Taubat

    Rajab Bulan Taubat

    BY 01 Jan 2025 Dilihat: 137 kali

    Di dalam Islam, bulan Rajab termasuk bulan haram atau bulan yang terhormat. Allah ﷻ berfirman di dalam surat at- Taubah ayat 36:

    إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ

    Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di dalamnya (bulan yang empat itu)”.

    Apa saja bulan yang empat itu? Telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sabdanya:

    السنةُ اثنا عَشَرَ شَهراً، منها أربَعَةٌ حُرُمٌ: ثلاثةٌ مُتوالياتٌ: ذُوالقَعْدَةِ، وذُوالحِجةِ، والمُحرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بينَ جُمَادَى وشعبانَ

    “Satu tahun ada 12 bulan. Di antara 12 bulan itu ada 4 bulan haram. Yang 3 bulan itu berurutan yaitu: Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram serta Rajab Mudhar yang terletak di antara bulan Jumadal Akhir dan Sya’ban.”(H.R. Bukhari, 4406, dan Muslim, 1679)

    Mengapa empat bulan tersebut tadi (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab)? Imam Ibnu al- Jauzī menukil pendapat al- Qādhī Abū Ya’lā bahwa karena dua hal, sehingga bulan- bulan tersebut dinamakan bulan Haram atau bulan yang mulia:

    Pertama, pada bulan tersebut diharamkan peperangan, dan orang- orang Jahiliyah meyakini hal tersebut juga. Kedua, larangan berbuat maksiat lebih ditekankan pada bulan- bulan Haram, begitu juga perintah untuk beramal saleh lebih ditekankan. (Tafsir Zādul Masīr fī ‘Ilmi at- Tafsīr, 2/ 256)

    Berkaitan dengan bulan Rajab,Imam Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya al- Qur’ān al- ‘Adzīm bahwa istilah ‘Rajab’ berasal dari kata التَّرْجِيبِ (at-Tarjib) yang berarti التَّعْظِيمِ (at- Ta’zhim) mengandung makna pengagungan. Orang Arab pada masa jahiliyah sangat mengagungkan bulan Rajab ini, Sehingga ketika datang waktu tersebut, mereka mengharamkan peperangan, tidak hanya itu, mereka pun memiliki ritual khusus dengan mengadakan penyembelihan hewan- hewan terbaik menurut pandangan mereka, yang disebut dengan “ar- Rajabiyah” atau juga disebut dengan “al- ‘Athīrah”. Tetapi penyembelihan yang mereka lakukan, bukan semata- mata karena Allah, bukan pula sekadar ingin berbagi makanan dari daging sembelihan tersebut, namun didasari keyakinan yang salah yaitu menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada berhala- berhala yang mereka sembah. Ketika Islam datang, bulan Rajab tetap diakomodir sebagai bulan Haram, bulan yang mulia, yang dihormati, namun dengan konsep yang berbeda. Kalau orang Arab Jahiliyah menyembelih hewan pada bulan Rajab untuk dipersembahkan kepada berhala, maka Islam datang meniadakan ritual tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda:

    لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَة

    “Tidak ada lagi  fara’a dan tidak ada ‘athīrah” (H.R. Bukhari dan Muslim)

    Fara’a dalam tradisi jahiliyah adalah anak pertama binatang yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala.

    Islam datang sebagai risalah Tauhid, mengajak manusia untuk mengesakan dan menyembah Allah semata, memberantas paganisme dan turunannya. Maka tradisi- tradisi jahiliyah di bulan Rajab yang bertentangan dengan nilai- nilai ketauhidan, ditiadakan. Diganti dengan perintah yang bernuansa tauhid untuk meningkatkan ibadah kepada Allah, beramal saleh, dan meninggalkan hal- hal yang diharamkan oleh Allah ﷻ. Berkenaan dengan hal tersebut, Ibnu ‘Abbās r.a. (salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang didoakan oleh Nabi ﷺ menjadi faqih dan mufassir) menerangkan:

    ثُمَّ اخْتَصَّ مِنْ ذلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ، وَجَعَلَ الذَّنْبَ فِيهِنَّ أَعْظَمَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالأَجْرَ أَعْظَمَ

    “Allah memberikan kekhususan empat bulan Haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab), dan Allah menetapkan kemuliaan bagi bulan- bulan tersebut, dan Allah menjadikan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar, begitu juga amal saleh dan pahala lebih besar” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4/ Hal. 147)

    Dari penjelasan tersebut bisa dipahami bahwa bulan- bulan Haram diberikan kekhususan sebagai bulan yang mulia dan terhormat, sehingga jika seseorang melakukan maksiat, maka dosanya lebih besar, sebaliknya, seseorang jika melaksanakan amal saleh, pahalanya lebih besar.

    Ma’asyiral muslimin, Bulan Rajab ini hendaknya bisa dijadikan momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan menjaga dan melaksankan ibadah yang diwajibkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah yang disunnahkan, meningkatkan produktivitas amal saleh, menahan diri dari maksiat atau hal- hal yang dilarang dalam Islam. Di antara hal yang ditekankan saat bulan Rajab adalah perintah untuk ‘Tobat’. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab al- Hanbalī dalam kitabnya Lathāiful Ma’ārif:

    جَدِيرُ بِمَنْ سَوَّدَ صَحِيْفَتَهُ بِالذُّنُوْبِ أَنْ يُبَيِّضَهَا بِالتَّوْبَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ  وَبِمَنْ ضَيَّعَ عُمرَهُ فِي البطَالَة أَنْ يَغْتَنِمَ فِيه مَا بَقِيَ مِنَ العُمرِ

    “Layak bagi orang yang menghitamkan catatan amalnya dengan dosa untuk memutihkannya (kembali) dengan bertobat di bulan ini (Rajab) dan bagi siapa saja yang menyia- nyiakan umurnya dalam hal yang tidak berguna untuk bersemangat dalam ibadah di bulan ini di  sisa umurnya” (Lathāif al- Ma’ārif, 121)

    Ma’asyiral muslimin, apa hakekat dari ‘tobat’? Imam Ibnu ‘Ăsyūr menjelaskan bahwa ‘taubah’ bermakna rujū’ yang berarti kembali. Seseorang yang bertobat berarti ia kembali kepada ketaatan dan meninggalkan maksiat. (Tafsir at- Tahrīr wa at- Tanwīr, 1/ 438). Berkaitan dengan perintah tobat, Allah Ta’ala berfirman di dalam surat at- Tahrim ayat 8:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ

    “Hai orang- orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar- benarnya”.

    Kita perhatikan ayat ini terdapat dua kata yang bersanding, yaitu taubatan nashūhan’. Nashūhan bermakna khālisah yang berarti murni, juga bisa bermakna shādiqah yang berarti benar. Sehingga ayat tersebut bisa dipahami mengandung perintah untuk bertobat dengan tobat yang benar. Lantas, apa kriteria tobat yang benar itu?

    Tobat yang benar harus memiliki unsur- unsur sebagai berikut:

    Pertama,al- Ikhlāshu lillāh. Ikhlas karena Allah. Maknanya bertobat dengan tujuan utama mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan ridha- Nya. Bukan sekadar motivasi duniawi. Allah Ta’ala berfirman:

    اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا

    “Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. an- Nisa’ ayat 146)

    Kedua, al- Iqlā’ ‘an addzanbi. Meninggalkan dosa yang pernah diperbuat dengan menjauhkan diri dari hal- hal yang bisa mendekatkan kepada dosa tersebut.

    Ketiga, an- Nadamu ‘alā irtikābi addzanbi. Menyesal atas dosa yang diperbuat. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

    النَّدَمُ تَوْبَةٌ

    “Penyesalan adalah taubat” (H.R. Ibnu Majah, 4252).

    Keempat, thalabul ‘afwā wal maghfirah. Memohon ampunan Allah ﷻ. Bentuk memohon ampunan kepada Allah bisa dengan mengucapkan istighfār, bisa dengan berdoa memohon dan mengharapkan ampunan dari Allah ﷻ. Jika perbuatan dosa tersebut berkaitan dengan sesama manusia, maka selain mohon ampun kepada Allah ﷻ , juga harus meminta maaf kepada orang yang telah dizalimi atau disakiti. Jika ada hak- hak orang lain yang diambil, maka harus dikembalikan kepada pemiliknya.

    Kelima, al’ Azmu. Niat yang kuat untuk tidak mengulangi dosa- dosa yang pernah dilakukan.

    Keenam, al- Ishlāh. Perbaikan diri. Tobat yang benar harus diiringi dengan perbaikan diri. Allah ﷻ berfirman:

    إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Kecuali orang-orang yang bertobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Āli ‘Imrān ayat 89)

    Yang dimaksud dengan perbaikan diri dalam hal ini adalah melakukan amal saleh, menghilangkan hal- hal yang bisa merusak akidah dan amal perbuatan, serta memperbaiki kekurangan- kekurangan yang ada pada diri.

    Sesiapa yang memenuhi unsur- unsur pertobatan di atas, maka ia berhak mendapatkan ampunan dari Allah ﷻ, dosa- dosanya dimaafkan dan dihapus oleh Allah ﷻ.

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Rajab Bulan Taubat

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023