
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., M.S.I. (Dosen Fakultas Ushuluddin, Institut Darul Fattah)
Padang Arafah adalah hamparan terbuka seluas kurang lebih 12 kilometer persegi yang terletak sekitar 22 kilometer di sebelah tenggara Kota Makkah menuju arah pegunungan Kota Thaif. Tempat ini menjadi lokasi paling krusial dalam ibadah haji, yaitu pelaksanaan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Namun, mengapa tempat lapang tersebut dinamakan Arafah?
Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya, An-Nukat wa al-’Uyun, mencatat bahwa ada empat pendapat ulama mengenai latar belakang penamaan tempat tersebut:
أَحَدُهَا: أَنَّ آدَمَ عَرَفَ فِيهِ حَوَّاءَ بَعْدَ أَنْ أُهْبِطَا مِنَ الْجَنَّةِ
“Pertama: Bahwa Nabi Adam mengenali kembali istrinya, Hawa, di tempat tersebut, setelah keduanya diturunkan secara terpisah dari surga ke bumi.”
Alasan pertama ini merujuk pada peristiwa sejarah pasca-turunnya manusia pertama ke bumi. Setelah dipisahkan dalam jarak geografis yang jauh sebagai bentuk ujian awal, Padang Arafah menjadi titik bertemunya kembali antara Nabi Adam ‘alaihissalam dan Sayyidah Hawa. Kata Arafah di sini mewakili momen saling mengenali kembali setelah sekian lama terpisah.
وَالثَّانِي: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَرَفَ الْمَكَانَ عِنْدَ الرُّؤْيَا، لِمَا تَقَدَّمَ لَهُ فِي الصِّفَةِ
“Kedua: Bahwa Nabi Ibrahim mengenali karakteristik tempat tersebut saat melihatnya secara langsung, karena ciri-ciri padang itu sudah digambarkan sebelumnya melalui wahyu di mimpinya.”
Alasan kedua berkaitan dengan petunjuk yang diterima Nabi Ibrahim. Sebelum mendatangi lokasi tersebut, Nabi Ibrahim sudah mendapatkan gambaran atau ciri-ciri fisik Padang Arafah melalui wahyu di dalam mimpinya. Begitu beliau sampai di lokasi dan melihat kondisinya persis dengan apa yang ada di dalam mimpi, beliau langsung mengenali tempat tersebut.
وَالثَّالِثُ: أَنَّ جِبْرِيلَ عَرَّفَ فِيهِ الْأَنْبِيَاءَ مَنَاسِكَهُمْ
“Ketiga: Bahwa Malaikat Jibril mengajarkan dan mengenalkan tata cara ibadah (manasik) kepada para Nabi di hamparan tanah tersebut.”
Kata ‘Arrafa dalam bahasa Arab juga berarti memberikan pengajaran atau bimbingan. Pendapat ketiga ini menyatakan bahwa nama Arafah diambil dari aktivitas edukasi syariat, di mana Malaikat Jibril mengajarkan bimbingan tata cara ibadah haji (manasik) secara langsung kepada para nabi terdahulu di tanah tersebut.
وَالرَّابِعُ: أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِعُلُوِّ النَّاسِ فِيهِ، وَالْعَرَبُ تُسَمِّي مَا عَلَا (عَرَفَةَ) وَ(عَرَفَاتٍ)، وَمِنْهُ سُمِّيَ عُرْفُ الدِّيكِ لِعُلُوهِ
“Keempat: Dinamakan Arafah karena posisi manusia yang berada di tempat tinggi atau tempat mulia tersebut. Orang Arab terbiasa menyebut segala sesuatu yang tinggi dengan istilah ‘Arafah’ atau ‘Arafat’, seperti istilah ‘Urfud Diik’ (jengger ayam), dinamakan demikian karena posisinya yang berada di paling atas atau tinggi.”
Alasan terakhir ini murni berdasarkan kebiasaan bahasa orang Arab asli. Secara bahasa, akar kata yang membentuk nama Arafah juga digunakan untuk menunjuk sesuatu yang tinggi (al-‘uluww).
Imam al-Mawardi menukil contoh istilah ‘Urfud Diik atau jengger ayam yang posisinya selalu paling atas. Karena Padang Arafah menjadi tempat berkumpulnya jutaan manusia dalam posisi yang tinggi, baik secara fisik bentang alam maupun tinggi derajatnya di hadapan Allah. Maka dari itu, tempat tersebut dinamakan Arafah.
Dari keempat penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa nama Arafah merangkum rangkaian makna yang mendalam, mulai dari sejarah pertemuan, kesesuaian petunjuk dengan kenyataan, pengajaran syariat, hingga lambang kemuliaan tempat.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Mengapa Tempat Wukuf Dinamakan Arafah? Membedah 4 Alasan dalam Tafsir Al-Mawardi