
Dalam perspektif Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi ﷺ), penyakit manusia terbagi menjadi dua kategori utama: penyakit badan (Maraḍ al-Abdān) dan penyakit hati (Maradh al-Qulūb).1 Keduanya disebutkan dalam Al-Qur’an dan memiliki tingkat bahaya yang berbeda, di mana penyakit hati justru lebih berbahaya karena menyerang keyakinan, pikiran, dan orientasi hidup manusia.
Baca Juga: Jenis Penyakit Menurut Thibbun Nabawi (2)
1. Penyakit Hati (Maradh al-Qulūb)
Penyakit hati dapat merusak jiwa dan orientasi spiritual manusia. Para ulama membagi penyakit hati menjadi dua jenis utama, yaitu penyakit syubhat dan penyakit syahwat.
a. Penyakit Syubhat dan Keraguan
Penyakit ini berupa keraguan terhadap kebenaran, lemahnya iman, dan kecenderungan untuk menolak petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakit itu… (QS. Al Baqarah ayat 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa syubhat dan keraguan menimbulkan kesesatan yang semakin bertambah. Allah juga berfirman:
لِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا
Agar orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata: Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? (QS. Al Muddatsir ayat 31)
Selain itu, ketika manusia diajak untuk berhukum dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sebagian dari mereka enggan dan berpaling. Allah mengecam sikap ini lewat firman-Nya:
وَإِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ (48) وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلْحَقُّ يَأْتُوٓا۟ إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرْتَابُوٓا۟ أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُۥ ۚ بَلْ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ (50)
Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang (48) Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh (49) Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim (50) (QS. An Nur ayat 48-50)
Ayat ini mengisahkan perilaku orang-orang munafik yang sungguh mengherankan atas keberpalingan mereka dari hukum yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keberpalingan mereka bukan sekadar sikap fisik atau penolakan lahiriah, ia bersumber dari penyakit hati yang mendalam. Hati yang sakit itu dipenuhi keraguan, ketidakpercayaan, dan prasangka buruk, sehingga membuat seseorang enggan menerima kebenaran walaupun kebenaran itu jelas di depan mata. Mereka menilai hukum Rasulullah ﷺ dengan kacamata ketakutan dan prasangka, bukan dengan pertimbangan iman dan akal yang sehat dan benar.
Kemudian Allah memperingatkan bahwa ketidakpatuhan yang muncul dari penyakit hati itu sendiri adalah bentuk kezaliman. Bahkan, rasa takut yang tidak berdasar terhadap “kemungkinan” ketidakadilan Allah dan Rasul-Nya adalah ilusi yang menjerumuskan hati dan itulah kezaliman yang sebenarnya mereka lakukan, karena berburuk sangka kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal, Allah Maha Adil dan Rasul-Nya menegakkan hukum dengan keadilan sempurna. Mereka yang berpaling karena alasan itu pada hakikatnya mereka sendirilah yang berbuat zalim karena mengingkari kebenaran yang seharusnya menjadi pedoman hidup.
Hasad (dengki) atau iri juga termasuk penyakit syubhat, karena berasal dari hati yang sakit secara moral. Penyakit ini bisa menempel di jiwa dan perlahan menjadi sifat yang memengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Dampaknya tidak hanya terbatas pada hubungan sosial seperti menimbulkan kebencian, permusuhan, atau kecemburuan, tapi juga merusak hubungan spiritual dengan Allah Ta‘ala, karena hati yang dipenuhi dengki sulit merasakan ridha dan syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
b. Penyakit Syahwat
Selain penyakit syubhat yang menyerang keyakinan dan membuat seseorang ragu terhadap kebenaran, penyakit hati yang juga berbahaya adalah penyakit syahwat. Penyakit ini muncul dari dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali, sehingga mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah, seperti zina, minum-minuman keras, berjudi (judi offline ataupun judi online), dan perilaku immoral lainnya. Penyakit syahwat bukan hanya mendorong fisik manusia untuk melakukan dosa, tapi juga menimbulkan kerusakan moral, merusak integritas diri, dan menimbulkan kecenderungan untuk menyepelekan batasan syariat.
Allah Ta‘ala menegaskan bahaya penyakit syahwat dalam firman-Nya kepada istri-istri Nabi ﷺ sebagai berikut,
يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ ۚ إِنِ ٱتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِٱلْقَوْلِ فَيَطْمَعَ ٱلَّذِى فِى قَلْبِهِۦ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا
Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu berbicara dengan suara yang lemah lembut (yang menggoda), sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya (QS. Al Ahzab ayat 32)
Ini merupakan etika yang diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada istri-istri Nabi ﷺ, dan juga kaum wanita secara umum berkenaan dengan etika wanita berbicara dengan laki-laki lain yang bukan suaminya, yakni larangan bagi wanita berbicara dengan lemah lembut, gemulai, atau genit kepada laki-laki lain karena sangat berpotensi membangkitkan nafsu birahi laki-laki yang terdapat penyakit dalam hatinya. Maka berbicara dengan cara yang sewajarnya saja.
Penyakit syahwat berakar pada hati yang tidak sehat, dan hati yang sakit ini dapat memunculkan dorongan untuk melakukan perbuatan yang merusak diri dan orang lain, dan jika dibiarkan akan menjerumuskan ke dalam jurang kerugian di seluruh aspek kehidupan.
Bersambung
Baca juga: Konsep Pengobatan Thibbun Nabawi
Baca: Berkenalan Sekilas dengan Kitab Ath-Ṭibb An-Nabawī karya Ibnul Qayyim
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Jenis Penyakit Menurut Thibbun Nabawi (1)