
Oleh: Zaim Atthory, B.Sh., M.S.I (*Alumnus LIPIA-IMSIU)
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ؛ أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ؛ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً؛ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ؛
Ma’âsyiral Muslimîn
Sesungguhnya dunia ini adalah Dâr al-Ibtilâ`—tempat di mana Allah ﷻ menurunkan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, tidak semua yang Allah ﷻ takdirkan bagi hamba-Nya sesuai dengan keinginannya. Negeri yang segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan penghuninya hanyalah surga di akhirat kelak. Adapun di dunia, betapa sering terjadi kejadian yang tidak menyenangkan bagi seorang hamba. Namun, seorang hamba yang beriman harus yakin bahwa jika dia menghadapi ujian dengan penuh kesabaran, maka apa yang Allah ﷻ takdirkan pada akhirnya pasti akan berbuah kebaikan.
Allah ﷻ berfirman tentang hal ini:
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian; dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat yang lain, Allah ﷻ berfirman:
فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisâ: 19)
Hendaklah ayat ini menjadi kaidah yang tertanam kuat dalam hati kita, agar kita bisa bersikap dengan benar ketika diberikan kebaikan dan keburukan oleh Allah.
Dalam al-Qur`an, Allah ﷻ menyebutkan beberapa contoh mengenai penerapan kaidah ini. Di antaranya:
Ketika Allah ﷻ mewajibkan kaum mukminin berjihad, berperang melawan salah satu dari dua pasukan. Allah ﷻ berfirman:
وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ
“Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu”. (QS. Al-Anfal: 7)
Ketika itu, kaum muslimin mendengar tentang kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa sekitar 200 kg emas dan dikawal hanya dengan 40 penjaga. Maka Nabi ﷺ mengajak para sahabat untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan ini. Mereka pun keluar dengan semangat berjumlah sekitar 315 orang, sayangnya kemudian Abu Sufyan mengetahui hal ini dan kemudian melaporkannya kepada Abu Jahal.
Abu Jahal pun datang dengan membawa 1.000 pasukan, sehingga Abu Sufyan pun berhasil kabur. Kemudian musuh berganti, dari Abu Sufyan yang hanya dikawal 40 orang, menjadi 100 pasukan dengan kekuatan yang penuh dipimpin oleh Abu Jahal.
Maka para sahabat tidak ingin berhadapan dengan Abu Jahal; karena pada awalnya lebih ingin menghadapi pasukan Abu Sufyan yang memiliki sedikit pengawal dan membawa harta yang banyak. Akan tetapi Allah berkehendak yang lain. Akhirnya para sahabat berhadapan dengan pasukan yang lebih dahsyat, tiga kali lipat dari jumlah para sahabat; 315 pasukan harus berhadapan dengan 1000 pasukan Abu Jahal.
Ternyata di balik ketidakinginan para sahabat tersebut, Allah menghendaki kebaikan yang lebih besar. Maka, terjadilah Perang Badar, yang Allah sebut sebagai Yaum al-Furqân (hari pembeda); peristiwa yang luar biasa tersebut mengangkat derajat dan martabat kaum muslimin, yang tadinya dianggap sepele oleh kabilah-kabilah lain menjadi ditakuti dan disegani, dan orang-orang yang ikut Perang Badar disebut dengan al-Badriy, yang Allah ﷻ sebutkan tentang mereka,
اِعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
“Lakukan apa yang kalian inginkan, karena sesungguhnya Aku telah ampuni kalian.”
Seandainya mereka ternyata menghadapi Abu Sufyan, maka mereka tidak mendapatkan keuntungan dan keutamaan ini. Benarlah firman Allah ﷻ,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ma’âsyiral Muslimîn
Peristiwa berikutnya, adalah tatkala Sayyidah Aisyah dituduh berzina dengan Shafwan bin Al-Mu’aththal As-Sulami, yang tuduhan tersebut digembar-gemborkan oleh orang-orang munafik. Allah ﷻ firmankan,
إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu, bahkan itu baik bagi kamu.” (QS. An-Nûr: 11)
Ketika dituduh berzina, maka Aisyah merasa sedih, Rasulullah ﷺ pun gelisah. Namun, di balik tuduhan tersebut akhirnya Allah ﷻ menurunkan sekitar 15 ayat untuk membela Aisyah dan memuji kesuciannya.
Dari peristiwa ini, semakin tampaklah kemuliaan Aisyah yang dibela langsung oleh Allah ﷻ. Seandainya tidak ada tuduhan dari orang-orang munafik, tentu keindahan Aisyah tidak menjadi lebih indah kecuali setelah mendapatkan tuduhan yang sangat keji ini. Dan akhirnya diketahui siapa orang-orang munafik yang ternyata ingin keburukan bagi Nabi ﷺ. Maka benarlah firman Allah ﷻ,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ma’âsyiral Muslimîn
Peristiwa berikutnya adalah tentang Zainab bintu Jahsyin radhiyallâhu‘anhâ. Nabi melamarkan Zainab untuk Zaid bin Haritsah. Awalnya, Zainab radhiyallâhu‘anhâ tidak mau menerima lamaran tersebut karena Zaid adalah seorang budak, sementara Zainab adalah wanita Quraisy yang memiliki nasab yang tinggi.
Namun, Allah ﷻ menegur Zainab dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡ
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzâb: 36)
Demi tunduk kepada perintah Rasulullah, Zainab akhirnya menikah dengan Zaid bin Haritsah. Namun sayangnya, pernikahan tersebut tidak bertahan lama karena terjadi perselisihan di antara mereka. Akhirnya, Zaid menceraikan Zainab. Allah ﷻ kemudian berfirman:
فَلَمَّا قَضَىٰ زَيۡدٞ مِّنۡهَا وَطَرٗا زَوَّجۡنَٰكَهَا
“Maka ketika Zaid telah selesai dari istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab).” (QS. Al-Ahzâb: 37)
Allah ﷻ menikahkan Nabi ﷺ langsung dengan Zainab tanpa wali dari pihak Zainab; sehingga dia pun menjadi Ummul Mukminin, istri Nabi di dunia dan di surga kelak. Zainab membanggakan hal ini di hadapan istri-istri Nabi yang lain, dengan berkata:
زَوَّجَكُنَّ أهالِيكُنَّ، وزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعالى مِن فَوْقِ سَبْعِ سَمَواتٍ
“Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sedangkan aku dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit.”
Ma’âsyiral Muslimîn
Peristiwa berikutnya adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalâm. Ketika beliau melakukan kesalahan, akhirnya beliau harus melarikan diri dari Mesir. Allah ﷻ berfirman:
فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُ
“Maka dia keluar dari kota dalam keadaan takut dan waspada.” (QS. Al-Qashash: 21)
Nabi Musa meninggalkan kemewahan yang dia nikmati sebagai anak angkat Fir’aun, hidup dalam kesenangan dan ketenteraman, namun akhirnya harus pergi ke negeri Madyan, yang di mana di sana, ia harus menjadi penggembala kambing selama 10 tahun.
Subhânallah, di balik peristiwa itu Allah ﷻ menakdirkan pertemuan Musa dengan seorang wanita salehah yang sangat pemalu dan berbakti kepada orang tuanya. Allah ﷻ juga memberikan dia kemampuan untuk mengatur manusia hingga akhirnya Allah ﷻ mengangkatnya menjadi seorang nabi. Maka benarlah firman Allah ﷻ,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ على إحسانِهِ، والشُّكرُ لهُ على توفيقِهِ وامتنَانِهِ، أَشهَدُ أن لا إلهَ إلَّا هو وحدَهُ لا شريكَ له، تعظيمًا لشأنِهِ، وأَشهَدُ أنَّ محمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ، الدَّاعي إلى سبيلِهِ ورِضوانِهِ، صلواتُ اللهِ وسلامُهُ عليه وعلى آلِهِ ومَن تبِعَهُم بإحسانٍ إلى يومِ الدِّين؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعالى فيما أَمَر، وانتهُوا عمّا نهى؛
Ma’âsyiral muslimîn,
Tentu, dalam hidup ini banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita ingin angin berhembus ke arah selatan, namun angin malah berhembus ke arah utara. Namun, seorang mukmin yakin bahwa semua yang terjadi adalah dengan izin Allah. Ingatlah kaidah yang menyatakan bahwa jika seorang menghadapi keputusan Allah dengan sabar, pastilah pilihan Allah yang terbaik.
الْخَيْرُ خيرة الله
“Yang terbaik adalah pilihan Allah”, dengan syarat dia bersabar.
Jika seorang menghadapi ujian dan dia bersabar, pasti penghujungnya lebih baik 100% lebih baik daripada yang dia perkirakan. Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda:
إنْ أصابَتْهُ سَرّاءُ شَكَرَ، فَكانَ خَيْرًا له، وإنْ أصابَتْهُ ضَرّاءُ، صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا له
“Kalau dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Kalau dia ditimpa dengan kesulitan yang dia tidak sukai, kemudaratan, penderitaan, maka dia bersabar, dan itu lebih baik baginya.”
Ma’âsyiral Muslimîn
Jangan lupakan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalâm dalam al-Qur`an. Bagaimana beliau diuji oleh Allah ﷻ; dimusuhi oleh kakak-kakaknya, dimasukkan ke dalam sumur, kemudian dijual menjadi seorang budak, bekerja, bahkan dituduh ingin berzina, dan akhirnya dipenjara.
Ternyata, akhirnya beliau menjadi salah seorang bangsawan di Mesir; menjadi Menteri Keuangan. Maka kalau kita mau nilai; musibah Nabi Yusuf yang pertama, ditambah musibah yang kedua, ditambah musibah yang ketiga, ditambah musibah yang keempat, ternyata sama dengan anugerah dari Allah ﷻ. Terkadang Allah ﷻ membawa anugerah kepada hamba-Nya dalam bentuk musibah-musibah. Maka benarlah firman Allah ﷻ,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Oleh karena itu, terkadang Allah ﷻ mengambil sesuatu yang kita cintai, namun di balik itu ternyata ada kebaikan-kebaikan yang Allah ﷻ ingin berikan kepada kita. Tugas kita hanyalah husnuzan, berbaik sangka kepada Allah ﷻ, dan Allah ﷻ berkata dalam hadis qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ، وَإنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ
“Sungguhnya Aku berdasarkan persangkaan hamba-Ku kepadaku. Jika dia berprasangka baik, maka baginya kebaikan; dan jika dia berprasangka buruk, maka keburukan baginya.
وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أَمَرَكُم بأمرٍ بدأ فيهِ بنفسِهِ، وثنَّى بملائكةِ قُدسِهِ، فقال في مُحكَمِ التَّنزيل: ﴿ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب: 56]؛ اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّم على نبيِّنا محمَّدٍ، وارضَ اللَّهُمَّ عن خلفائِهِ الرَّاشدين الذين قضَوا بالحقِّ وبه كانوا يعدِلون: أبي بكرٍ، وعمر، وعثمان، وعليٍّ، وعن سائرِ الصَّحابةِ أجمعين، وعنَّا معهم بجُودِكَ وكرمِكَ يا أكرمَ الأكرمين. اللَّهُمَّ اغفِر للمسلمينَ والمسلماتِ، والمؤمنينَ والمؤمناتِ، الأحياءِ منهم والأمواتِ. اللَّهُمَّ أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين، ودمِّر أعداءَ الدِّين، واجعل اللَّهُمَّ هذا البلدَ آمِنًا مطمئنًّا رخاءً وسائرَ بلادِ المسلمين. اللَّهُمَّ آمِنَّا في أوطانِنا، وأصلِح أئمَّتَنا ووُلاةَ أمورِنا، واجعل اللَّهُمَّ ولايتَنا فيمَن خافَكَ واتَّقاكَ، واتَّبع رِضاكَ يا ربَّ العالمين. عِبادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأمُرُ بِالعَدلِ وَالإِحسانِ وَإيتاءِ ذي القُربىٰ، وَيَنهىٰ عَنِ الفَحشاءِ وَالمُنكَرِ وَالبَغيِ ۚ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرونَ ﴿النحل: ٩٠﴾ فاذكُروا اللهَ العظيمَ يَذكُركُم، واشكُروهُ على نِعَمِهِ يَزِدكُم، ولذِكرُ اللهِ أكبَر.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Apa yang Kita Anggap Baik Belum Tentu Baik bagi Diri Kita