
الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى، وَأَلْزَمَ عِبَادَهُ بِمَا أَنْزَلَ مِنَ الْهُدَى، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَعْطَى وَأَسْدَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَيْهِ تُرْفَعُ النَّجْوَى، وَهُوَ مُنْتَهَى كُلِّ شَكْوَى، وَإِلَيْهِ الْمَآبُ وَالرُّجْعَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ الْمُجْتَبَى، وَنَبِيُّهُ الْمُصْطَفَى، وَرَسُولُهُ الْمُرْتَضَى، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَن تَبِعَ هُدَاهُمْ وَاقْتَفَى؛ أما بعد، فاتقوا الله عباد الله فإن تقواه خير زادٍ، فَقَالَ: ﴿وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ﴾ (البقرة: 197) وَقاَلَ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ (آل عمران: 102)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Boleh kita katakan bahwa kita semua sedang hidup di zaman gelombang fitnah atau ujian. Fitnah bukan hanya dalam urusan harta, kedudukan, atau jabatan. Tetapi juga dalam urusan keluarga, anak-anak, ataupun rumah tangga. Akhir-akhir ini, hampir setiap hari kita disuguhi dengan berita remaja atau pemuda-pemudi berpacaran, lalu terjadi pertengkaran, akhirnya berujung pada pembunuhan keji oleh pacarnya. Tragisnya, korban sering kali anak perempuan yang masih belia, masih menempuh bangku sekolah dan kuliah, yang seharusnya dirawat penuh kasih sayang, menikmati masa mudanya dengan indah, menuntut ilmu yang bermanfaat, meraih masa depan yang cerah, justru kehilangan nyawa karena tragedi dalam pergaulan. Seorang istri ataupun suami, masing-masing sudah memiliki pasangan yang sah. Kemudian mereka berselingkuh dengan suami orang lain, atau istri orang lain. Terjadi perselisihan, kemudian berujung pada pembunuhan oleh pasangan selingkuhnya. Inilah fitnah zaman yang nyata dan tampak di depan mata kita, dan terdengar di samping kedua telinga kita.
Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan,
إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وإنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كيفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ؛ فإنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau (indah dan menawan). Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di dalamnya, lalu Allah melihat bagaimana kalian berbuat. Maka takutlah terhadap fitnah dunia, dan takutlah terhadap fitnah wanita. Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada (urusan) wanita” (HR. Muslim, no. 2742)
Hadis ini menunjukkan bahwa fitnah terbesar sepanjang sejarah bagi umat manusia adalah fitnah harta dan fitnah wanita. Dua perkara ini (harta dan wanita) jika tidak dijaga dengan iman dan takwa, tidak diarahkan lewat jalan-jalan yang dihalalkan oleh syari’at Allah ﷻ, bisa menjerumuskan seseorang kepada jurang kesengsaraan dan malapetaka.
Kasus kriminal yang menyangkut pergaulan dan keluarga yang tersebut di awal khutbah tadi bukan sekadar perkara kejahatan, tapi juga cermin lemahnya benteng keluarga. Anak-anak dan keluarga yang kurang pengawasan, kurang pengarahan, kurang keteladanan, dan kurang perhatian. Penyalahgunaan media sosial, tontonan yang dijadikan tuntunan, dan life style (gaya hidup) permisif membuat pacaran dan hubungan pria-wanita yang di luar batas kewajaran dianggap lumrah, padahal itu pintu fitnah dan bahaya besar.
Karena itu, Nabi ﷺ memperingatkan dengan sangat jelas: “Fattaqūn nisā’ –takutlah kalian terhadap fitnah wanita.” Tentu saja maksudnya bukan membenci wanita, tapi menjaga diri, menjaga keluarga, mendidik anak perempuan dengan baik, dan menjaga batasan syari’at, supaya tidak terjebak dalam hubungan dan interaksi yang haram.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Ini adalah peringatan keras bagi kita semua, bahwa sejatinya keluarga adalah benteng terakhir peradaban sekaligus pertahanan utama yang menentukan kokohnya struktur sosial umat. Jika benteng keluarga ini rapuh, maka sangat mudah diterobos oleh serdadu-serdadu keburukan yang kemudian menghancurkannya dari dalam. Oleh karena itu, Allah ﷻ memberikan perintah yang tegas,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At Tahrim ayat 6)
Melalui ayat ini, sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka dengan cara menaati Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya, mengajarkan kebaikan kepada keluarga mereka, memerintahkan mereka kepada yang ma‘ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar, serta menjadi teladan yang baik bagi mereka.
Lebih dalam lagi, ayat ini bukan sekadar perintah, tetapi juga penegasan tanggung jawab besar bagi setiap kepala keluarga. Menjaga keluarga dari api neraka berarti mendidik mereka dengan iman, melindungi mereka dari pergaulan yang rusak, serta membentengi mereka dengan akhlak dan adab Islami. Inilah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah,
Fitnah zaman ini bukan hanya berbentuk kemaksiatan yang terlihat di jalanan, tapi potensinya sudah masuk ke rumah-rumah kita, kamar-kamar anak kita, lewat media digital, smartphone, internet, dan media sosial. Banyak anak terpapar tontonan yang merusak akhlak, gaya hidup hedonis, bahkan pemikiran dan ideologi yang menyesatkan. Oleh karena itu, kita tidak cukup hanya tahu, marah, atau miris, tapi harus menerapkan langkah konkret untuk menjaga diri dan keluarga kita dari fitnah zaman dan gelombang marabahaya sebagaimana berikut;
Pertama, perkuat pendidikan agama sejak dini. Tanamkan akidah yang benar, ajarkan adab, dan rasa takut kepada Allah dengan orientasi penerapan, bukan sekadar teori. Biasakan sholat berjamaah, tilawah Al Qur’an, dan doa dalam rumah tangga. Anak dan keluarga yang punya bekal akidah yang cukup dan benteng iman, lebih sulit dirusak oleh dinamika pergaulan era kekinian yang cenderung tidak sehat.
Kedua, bangunlah komunikasi yang akrab dan hangat dengan anak-anak kita. Jangan sampai mereka lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada pacar atau teman-temannya dari pada kepada orang tuanya sendiri. Dengarkan keluh kesah mereka dengan sabar, jangan terburu-buru menyalahkan sebelum benar-benar memahami masalah yang mereka hadapi. Berilah solusi, kawal permasalahan mereka, dan tunjukkan kasih sayang dalam bimbingan.
Hal yang sama juga harus berlaku dalam rumah tangga. Suami dan istri harus saling menjadi kanal mencurahkan isi hati, tempat meminta saran, dan saling menguatkan. Jangan sampai seorang suami lebih nyaman bercerita kepada wanita lain, atau seorang istri lebih nyaman bercerita kepada pria lain. Itu adalah pintu kehancuran, dan fenomena seperti itu tidak boleh terjadi dalam keluarga muslim.
Ketiga, awasi pergaulan dan media sosial keluarga kita. Bukan berarti membatasi secara berlebihan, tetapi mengarahkan dan membimbing. Jangan biarkan anak-anak tumbuh bebas tanpa pengawasan. Orang tua berhak dan berkewajiban mengetahui siapa saja teman dekat anaknya, serta memberikan bimbingan dalam memilih pergaulan yang baik.
Terutama di era media sosial, fitnah begitu mudah masuk tanpa permisi. Karena itu, jangan mudah memberikan kepercayaan penuh kepada orang lain sebelum jelas mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang tulus dan mana yang sebenarnya menyimpan niat buruk. Ingatlah, ma’asyiral muslimin hafidzakumullah, banyak tragedi memilukan yang menimpa remaja hari ini berawal dari pergaulan yang salah dan kepercayaan yang keliru.
Keempat, tanamkan rasa malu, harga diri, dan tanggung jawab kepada anak. Ajarkan anak perempuan menjaga kehormatan, dan anak laki-laki menjaga tanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْحَيَاءُ لَا يَأْتِيْ إِلَّا بِخَيْرٍ
“Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari, 6117, Muslim, 37)
Dalam hadis ini, Nabi ﷺ memuji akhlak malu (ḥayā’), yang wajib dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan secara seimbang; karena malu itu bisa mencegah seseorang terjerumus dalam perbuatan dosa.
Kelima, jadilah teladan; anak lebih mudah meniru perbuatan orang tua dari pada mendengar ceramahnya. Keluarga lebih mudah mengikuti tindakan konkret dari pada sekadar nasihat. Dikatakan dalam sebuah sya’ir;
كُنْ قُدْوَةً فَالأَفْعَالُ أبلغُ مِنَ الأقوالِ
Jadilah teladan, sebab perbuatan lebih berharga dari pada kata-kata
Ma’asyiral muslimin a’azzakumullah,
Keluarga adalah amanah Allah yang berharga. Jika kita lalai dan tak berhati-hati, anak-anak dan keluarga kita bisa menjadi korban dinamika zaman. Tapi jika kita serius menjaga, Allah akan menjaga mereka pula.
Semoga Allah ﷻ menyelamatkan keluarga kita semua dari fitnah dunia dan marabahaya.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ على إحسانِهِ، والشُّكرُ لهُ على توفيقِهِ وامتنَانِهِ، أَشهَدُ أن لا إلهَ إلَّا هو وحدَهُ لا شريكَ له، تعظيمًا لشأنِهِ، وأَشهَدُ أنَّ محمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ، الدَّاعي إلى سبيلِهِ ورِضوانِهِ، صلواتُ اللهِ وسلامُهُ عليه وعلى آلِهِ ومَن تبِعَهُم بإحسانٍ إلى يومِ الدِّين؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعالى فيما أَمَر، وانتهُوا عمّا نهى، وَاعْلَمُوا أنَّ اللهَ أَمَرَكُم بأمرٍ بدأ فيهِ بنفسِهِ، وثنَّى بملائكةِ قُدسِهِ، فقال في مُحكَمِ التَّنزيل: ﴿ إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب: 56]؛ اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّم على نبيِّنا محمَّدٍ، وارضَ اللَّهُمَّ عن خلفائِهِ الرَّاشدين الذين قضَوا بالحقِّ وبه كانوا يعدِلون: أبي بكرٍ، وعمر، وعثمان، وعليٍّ، وعن سائرِ الصَّحابةِ أجمعين، وعنَّا معهم بجُودِكَ وكرمِكَ يا أكرمَ الأكرمين.
اللَّهُمَّ اغفِر للمسلمينَ والمسلماتِ، والمؤمنينَ والمؤمناتِ، الأحياءِ منهم والأمواتِ. اللَّهُمَّ أعِزَّ الإسلامَ والمسلمين، وأذِلَّ الشِّركَ والمشركين، ودمِّر أعداءَ الدِّين، واجعل اللَّهُمَّ هذا البلدَ آمِنًا مطمئنًّا رخاءً وسائرَ بلادِ المسلمين. اللَّهُمَّ آمِنَّا في أوطانِنا، وأصلِح أئمَّتَنا ووُلاةَ أمورِنا، واجعل اللَّهُمَّ ولايتَنا فيمَن خافَكَ واتَّقاكَ، واتَّبع رِضاكَ يا ربَّ العالمين.
عِبادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأمُرُ بِالعَدلِ وَالإِحسانِ وَإيتاءِ ذي القُربىٰ، وَيَنهىٰ عَنِ الفَحشاءِ وَالمُنكَرِ وَالبَغيِ ۚ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرونَ ﴿النحل: ٩٠﴾ فاذكُروا اللهَ العظيمَ يَذكُركُم، واشكُروهُ على نِعَمِهِ يَزِدكُم، ولذِكرُ اللهِ أكبَر.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Menjaga Keluarga dari Fitnah Zaman dan Gelombang Marabahaya