KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Keindonesiaan » H.O.S. Tjokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota (1)

    H.O.S. Tjokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota (1)

    BY 04 Jan 2025 Dilihat: 131 kali

    Kalau ada orang yang dijuluki Raja Jawa, maka H.O.S. Tjokroaminoto lebih layak dan pantas mendapat julukan tersebut. Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih akrab disebut HOS.Tjokroaminoto adalah salah satu tokoh dalam kancah pergerakan nasional. Ia disebut-sebut sebagai Raja Jawa yang tak bermahkota, De ongekroonde koning van java, demikian Belanda menjulukinya. Hal itu bukan tanpa alasan. Tjokro boleh dibilang sebagai seorang yang cerdas dan salah satu otak dan penggerak masyarakat Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda dan segala bentuk penindasan, sehingga spirit perlawanan terhadap kolonialisme semakin membumi dan ekspansif. Darinya, muncul berbagai tokoh yang beragam ideologinya dan berupaya untuk menentukan arah ideologi bangsa, sebut saja S.M. Kartosuwiryo, dengan ideologi Islamnya, Soekarno dengan sekulerismenya, Muso dan Semaun dengan komunismenya. Meskipun pada akhirnya murid-muridnya memiliki jalan pikirannya masing-masing, posisi dan arah HOS. Tjokroaminoto sebagai guru bangsa telah jelas, ia adalah seorang Islamis dan progresif.

    Masa Kecil Tjokroaminoto

                HOS. Tjokroaminoto lahir pada Rabu Kliwon, 1 Syawal 1299 H, bertepatan dengan 16 Agustus 1882 M di sebuah desa bernama Bakur, Kecamatan Sawahan, Madiun, Jawa Timur. Ia adalah anak kedua dari priyayi bernama Raden Mas Tjokroamiseno, seorang Wedana di Kleco, Madiun. Dipanggil Tjokroaminoto oleh keluarganya dengan harapan kelak bisa menjadi pemimpin yang berani membela kebenaran dan bisa membebaskan masyarakat dari penindasan. Harapan tersebut terwujud di kemudian hari. Pada saat memimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto dikenal gigih membela kebenaran dengan cara melawan ketidakadilan di masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

                Tjokroaminoto memiliki garis keturunan kyai sekaligus bangsawan. Oleh karenanya ia berhak menyandang nama lengkap Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto. Kakek dari pihak ayahnya, Raden Mas Adipati Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo. Sedangkan ibunya adalah anak seorang ulama masyhur bernama Kyai Bagus Kasan Besari, pemilik dan pengasuh Pesantren Tegalsari, Ponorogo. Kyai Kasan Besari dikenal giat berdakwah dan menyemarakkan syiar Islam di antero Karesidenan Madiun. Tampaknya, latar belakang keluarganya inilah yang menjadikan kehidupan masa kecil Tjokroaminoto lebih mapan dibanding lazimnya anak-anak pribumi yang termarginalkan pada era itu. Walaupun demikian, dari kecil jiwa egaliternya sudah tertanam. Ia kerap menanggalkan gelar kebangsawanannya supaya lebih akrab dengan teman-teman sepermainannya.

                Sebagai seorang anak priyayi sekaligus keturunan kyai, Tjokro ditempa dengan pendidikan agama, di samping pendidikan barat ala Belanda, sebagaimana layaknya anak bangsawan lainnya yang diizinkan untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah Belanda. Tjokroaminoto memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dengan cepat dikuasainya, sehingga guru- gurunya di sekolah sering memujinya di depan kelas. Pada 1897 Tjokroaminoto berhasil menyelesaikan pendidikannya pada Sekolah Belanda tingkat dasar, sehingga ia dinilai mahir dalam bidang baca, tulis, berhitung dan bahasa Belanda.

    Menginjak Usia Remaja

                Selepas dari Sekolah Belanda tingkat dasar, Tjokroaminoto dimasukkan ke sekolah calon pegawai pemerintah bumi putera atau Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) yang berada di kota Magelang, Jawa Tengah. Tjokroaminoto menyetujui untuk disekolahkan oleh orang tuanya ke OSVIA, karena tradisi di kalangan pegawai pemerintah atau Binnenland Bestuur (BB) biasa memasukkan anak-anaknya ke OSVIA. Harapan orang tua pada umumnya saat itu,  selesai mengikuti pendidikan di OSVIA anaknya bisa menjadi pegawai pemerintah, supaya kesejahteraan hidup keluarganya terjamin.

                Pendidikan di OSVIA berlangsung selama 5 (lima) tahun dengan penekanan pada pelajaran ilmu pemerintahan, karena OSVIA merupakan sekolah untuk mendidik anak-anak pribumi agar terampil menjadi pegawai pemerintah. Prospek karir dan masa depan pelajar OSVIA menjanjikan kesejahteraan, karena setelah lulus dari sekolah, pekerjaan sudah menanti. Pemerintah secara resmi akan mengangkat mereka menjadi pegawai pemerintah di daerah-daerah yang membutuhkannya. Biasanya mereka akan ditugaskan di daerah sekitar tempat asalnya.

    Mengawali Karir sebagai Pegawai, Menuju Bahtera Rumah Tangga

    Pada usia 20 (dua puluh) tahun, Tjokro telah menyelesaikan pendidikannya di OSVIA pada tahun 1902. Berdasarkan surat pemerintah, Tjokroaminoto ditugaskan menjadi seorang juru tulis patih di Ngawi, Jawa Timur.

    Tjokroaminoto menerima pekerjaan tersebut dengan tangan terbuka, sehingga orang tuanya sangat berbangga hati. Raden Mas Tjokroamiseno berharap anak laki-lakinya itu kelak bisa menempati jabatan tinggi dalam bidang pemerintahan, sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang mapan dan mengangkat harkat dan martabat keluarga.

                Penghasilan Tjokroaminoto sebagai pegawai pemerintah dianggap telah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu orang tuanya berencana untuk segera menikahkannya. Pada masa itu pernikahan anak- anak  ambtenaar didasarkan atas perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua kedua calon mempelai. Sudah hal biasa jika anak yang akan dinikahkan tidak saling kenal, suka, dan cinta satu sama lain sebelumnya. Mereka berpikir bahwa rasa suka, cinta, dan saling memiliki bisa tumbuh seiring berjalannya waktu ketika sudah berumah tangga. Mereka hanya menyetujui dan mematuhi perintah dari orang tua, madep mantep sendhika dhawuh kepada orang tua.

                Aspek keturunan menjadi pertimbangan utama  dalam menikahkan anak. Kalangan priyayi lazimnya akan menikahkan anaknya dengan priyayi yang lebih tinggi ataupun sederajat. Raden Mas Tjokroamiseno pada akhirnya meminang Raden Ajeng Soeharsikin, anak dari Raden Mangoensoemo, Patih (Wakil Bupati) di Ponorogo untuk dijodohkan dengan Raden Mas  Oemar Said Tjokroaminoto. Lamaran orang tua Tjokroaminoto kepada orang tua Raden Ajeng Soeharsikin diterima dengan baik, karena kedua orang tua menilai kedudukan sosial mereka di tengah masyarakat tidak jauh berbeda. Sebagai bukti kepatuhan dan pengabdian kepada orang tuanya, Raden Ajeng Soeharsikin menyetujui pernikahan tersebut.

    Gejolak Jiwa sebagai Pegawai Belanda

                Tjokroaminoto mencukupi nafkah keluarganya dari gaji sebagai juru tulis patih Ngawi, Jawa Timur, yang ia terima setiap bulan. Lambat laun Tjokro merasa bahwa pekerjaan sebagai ambtenaar bukanlah pekerjaan yang cocok bagi dirinya, karena pada dasarnya ia menentang sikap feodal yang membenarkan adanya penghambaan di antara sesama manusia. Menurut Tjokro, semua manusia diciptakan dalam derajat yang sama, bangsa kulit putih tidak lebih tinggi dan unggul dari bangsa berkulit coklat. Semua manusia dari etnis apapun harus diperlakukan sama dalam pergaulan hidup.

                Bekerja sebagai juru tulis pada dinas pemerintahan membuat kemerdekaan berpikir Tjokroaminoto terampas, dan pergerakannya terbatas. Lingkungan pekerjaan memaksa Oemar Said Tjokroaminoto harus hormat kepada orang Belanda secara berlebihan, khususnya kepada atasannya, bahkan terhadap orang Belanda dengan kedudukan yang sama atau di bawahnya sekalipun. Kondisi yang tidak nyaman tersebut berusaha untuk terus ia jalani, karena di lain sisi ia masih perlu gaji sebagai pegawai guna mencukupi kebutuhan keluarganya.

                Seiring waktu, Tjokroaminoto tidak bisa bekerja dengan sepenuh hati. Jiwanya bergejolak, hatinya memberontak, apalagi ia diperlakukan tidak adil dalam sistem kepegawaian di pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1905 dengan keyakinan hati yang kuat Tjokroaminoto memutuskan keluar dari jabatan sebagai juru tulis patih Ngawi. Sebenarnya, keputusan tersebut bukanlah keputusan sepihak Tjokroaminoto, tetapi keputusan bersama yang diambil setelah melakukan diskusi cukup lama dengan isterinya, Raden Ajeng Soeharsikin.

                Tjokroaminoto menyampaikan sendiri surat pengunduran dirinya sebagai juru tulis kepada Patih Ngawi. Surat pengunduran dirinya disusun secara resmi dan disertai alasan yang tepat dan kuat. Tjokroaminoto menuliskan alasan tidak cocok sebagai pegawai pemerintah menjadi sebab utama pengunduran dirinya. Sembah jongkok terhadap pegawai pemerintah orang Belanda menjadi alasan utama Tjokroaminoto mengundurkan diri sebagai pegawai pemerintah.

                Pengunduran diri Oemar Said Tjokroaminoto sebagai pegawai pemerintah menimbulkan kegemparan luar biasa di kalangan ambtenaar dan masyarakat pada umumnya, karena tindakan tersebut bisa dibilang anti mainstream. Tjokroaminoto menentang arus besar kebiasaan masyarakat pada masa itu. Pada saat semua orang berlomba ingin menjadi pegawai pemerintah, Tjokroaminoto memilih jalan berbeda menyatakan keluar sebagai pegawai pemerintah. (Berlanjut)

    Referensi:

    HOS. Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, (Bandung: Sega Arsy, 2010), Cet. II

    Nuim Hidayat, Tokoh-tokoh Islam yang Melukis Indonesia, (Bantul: Mata Kata Inspirasi, 2022), Cet. II

    Tim Museum Kebangkitan Nasional, Djoko Marihandono, dkk, H.O.S. Tjokroaminoto Penyemai Pergerakan Kebangsaan & Kemerdekaan, (Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional, 2015)

    Amelz, H.O.S. Tjokroaminoto Hidup dan Perdjuangannja, (Djakarta: Bulan Bintang, tanpa tahun)

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk H.O.S. Tjokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota (1)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023