KATEGORI
  • Adab
  • Ahwal Syakhshiyyah
  • Akidah
  • Bahasa Arab
  • Fikih
  • Fikih Madzhab
  • Fikih Muamalah
  • Galeri Jum'at
  • Hadits
  • Kabar
  • Keindonesiaan
  • Khutbah 'Ied
  • Khutbah Gerhana
  • Khutbah Jum'at
  • Konsultasi
  • Muhasabah
  • Pemikiran Islam
  • Semarak Idul Adha
  • Semarak Idul Fitri
  • Tadabbur Quran
  • Tafsir
  • Tajwid & Tahsin
  • Tazkiyatun Nafs
  • Thibbun Nabawi
  • Tsaqafah
  • Uncategorized
  • Ushul Fikih
  • Beranda » Khutbah Jum'at » Husnudzan kepada Allah Ta’ala

    Husnudzan kepada Allah Ta’ala

    BY 28 Feb 2024 Dilihat: 151 kali

    Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., M.S.I.

    اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَينَا النِّعْمَةَ ، وَجَعَلَ أُمَّةَ الإِسْلَامَ خَيْرَ أُمَّة، وَبَعَثَ فِينَا رَسُولًا مِنَّا يَتْلُو عَلَينَا آيَاتِهِ وَيُزَكِّينَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَة، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّة؛ وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شَهَادَةً تَكُونُ لِمَن اعْتَصَمَ بِهَا خَيرَ عِصْمَة، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أَرْسَلَهُ لِلعَالَمِينَ رَحْمَة، فَدَعَا إِلَى كَلِمَةِ التَّوحِيدِ وَتَوْحِيدِ الكِلْمَة، فَكَشَفَ اللهُ بِهِ الغُمَّة، وَمَحَا بِنُورِ سُنَّتِهِ الظُّلْمَةَ، صلى الله عليه، وعلى آله وأصحابه، صَلَاةً تَكُونُ لَنَا طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة؛  فيا عباد الله !  اتقوا الله، فَقَالَ تَعَالَى: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا؛ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا؛ أما بعد؛

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita senantiasa memanjatkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala, karena bersyukur kepada Allah ﷻ adalah kewajiban bagi orang beriman sebagai bentuk ibadah dan tanda bukti terima kasih dari kita selaku manusia kepada Sang Pencipta, yaitu Allah ﷻ, Allah Ta’ala menegaskan perintah tersebut melalui firman-Nya:

    وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    “dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al-Baqarah ayat 172)

    Sekaligus mari kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan cara meningkatkan rasa takut kita kepada Allah, bersikap waspada dan hati-hati, serta melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sayyiduna Ali bin Abi Thalib mendefinisikan takwa sebagai berikut:

    اَلخَوفُ مِنَ الجَلِيلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ، وَالرِّضَا بِالقَلِيلِ، وَالاِسْتِعدَادُ لِيَومِ الرَّحِيلِ

    “Takut kepada Allah yang Maha Perkasa, beramal dengan Al-Qur’an, ridha atas pemberian Allah walaupun sedikit, dan mempersiapkan (amal) untuk hari kematian” (Kitāb Durūs li as-Syaikh Muhammad Hassān, 8/ 10)

    Ma’asyiral mukminin arsyadakumullah,

    Di antara ibadah hati yang ditekankan bagi kita sebagai orang beriman adalah husnudzan kepada Allah ﷻ. Apa itu husnudzan?, berprasangka baik. Husnudzan kepada Allah ﷻ berarti berprasangka baik kepada Allah ﷻ. Bagaimana kita berprasangka baik kepada Allah ﷻ? Mari kita perhatikan penjelasan para Ulama tentang definisi dari husnudzan kepada Allah ﷻ,

    حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالى هُوَ قُوَّةُ اليَقِينِ بِمَا وَعَدَ اللهُ تَعَالى عِبَادَهُ مِن سَعَةِ كَرَمِهِ وَرَحْمَتِهِ، وَرَجَاءُ حُصُولِ ذَلِكَ

    “Husnudzan kepada Allah berarti kuatnya keyakinan terhadap apa yang Allah Ta’ala janjikan kepada hamba-hamba-Nya dari kebaikan Allah dan rahmat-Nya, dan berharap mendapatkan (kebaikan dan rahmat) tersebut” (islamqa, mafhūm husnudzan billāhi ta’ālā, al- Musyrif al-‘Ām: Muhammad Shālih al-Munajjid, 272434)

    Dalam pengertian yang lain juga disebutkan,

    اِعْتِقَادُ مَا يَلِيقُ بِاللهِ تَعَالى مِنْ أَسْمَاءٍ وَصِفَاتٍ وَأَفْعَالٍ، وَاعْتِقَادُ مَا تَقْتَضِيهِ مِن آثَارٍ جَلِيْلَةٍ

    “Meyakini apa- apa yang layak bagi Allah Ta’ala dari nama- nama-Nya, sifat- sifat-Nya, dan perbuatan-Nya, dan meyakini pengaruh- pengaruh yang terkandung di dalamnya”. (islamqa, ma’nā husnudzan billāh, al- Musyrif al-‘Ām: Muhammad Shālih al-Munajjid, 150516)

    Di antara contohnya adalah meyakini bahwa Allah memiliki salah satu asmaul husna (nama-nama yang baik) Ar-Rahīm (Maha Pemurah atau Maha Pengasih), maka kita meyakini pula bahwa Allah memiliki sifat penyayang, dan Dia menyayangi hamba- hamba-Nya yang berhak dan yang ia kehendaki, dan kita berharap mendapatkan rahmat, kasih sayang Allah tersebut.

    Begitu juga, kita meyakini bahwa Allah memiliki asmaul husna yang bernama At-Tawwāb (Maha Menerima Tobat), maka kita meyakini pula bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat penerima tobat, dan Dia menerima tobat jika hamba-Nya bertobat dan memperbaiki diri kembali, dan seorang hamba layak untuk berharap bahwa tobatnya diterima oleh Allah Ta’ala.

    Kita meyakini bahwa Allah memiliki nama Al-Hakīm yang artinya Maha Bijaksana, maka kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah memiliki sifat bijaksana, dan meyakini bahwa Allah memiliki dan memberikan hikmah-hikmah yang sempurna di setiap takdir yang ia tentukan dan tetapkan sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

    Kita meyakini bahwa Allah memiliki nama Asy-Syāfī (Maha Menyembuhkan), maka kita juga harus meyakini bahwa Allah memiliki sifat penyembuh, dan kita meyakini bahwa Allah menyembuhkan segala penyakit atas kuasa-Nya, maka kita berprasangka baik bahwa Allah pasti memberikan kesembuhan, dan kita yakin bahwa kesembuhan itu mutlak hanya dari Allah Ta’ala.

    Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,

    Tetapi yang perlu menjadi catatan adalah walaupun husnudzan kepada Allah adalah ibadah hati, atau ibadah yang berpangkal dari hati,  husnudzan kepada Allah juga harus diiringi dengan amal perbuatan. Artinya apa jama’ah sekalian rahimakumullah?  Husnudzan kepada Allah harus tetap diiringi dengan amalan- amalan yang menjadi sebab penghantar kepada kebaikan, dan meninggalkan sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan.

    Maka sesiapa yang menganggap bahwa husnudzan kepada Allah ﷻ  itu tidak perlu diiringi dengan amal perbuatan, maka ia telah keliru, serta tidak memahami ibadah ini dengan worldview atau cara pandang yang benar. Berprasangka baik kepada Allah ﷻ dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan kemaksiatan atau hal-hal yang diharamkan itu tidak ada manfaatnya, sama saja terpedaya dengan angan-angan kosong dan harapan tercela.

    Misalnya, ada orang yang melaksanakan sholat semaunya sendiri. Kalau sedang semangat, mau salat. Kalau sedang malas, tidak salat dengan prasangka bahwa Allah itu Maha Pengampun. Nanti Allah akan memahami dan memaafkan dirinya.

    Atau sebaliknya, ada orang yang terus menerus berkubang dalam kemaksiatan, kezaliman, dan dosa besar lainnya, tanpa merasa takut dan berdosa, enggan bertobat, karena dia berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah ﷻ  itu Maha Pengampun dan rahmat-Nya melebihi murka-Nya. Allah ﷻ pasti akan mengampuninya meskipun ia tidak bertobat sampai mati.

    Sesiapa yang berprasangka seperti itu maka dia termasuk orang yang telah terpedaya, memiliki pengharapan yang tercela serta keinginan yang mengada-ada, dan merasa aman dari azab Allah. Pemikiran dan angan-angan seperti itu membahayakan dan membinasakan.

    Ma’asyiral mukminin rahimakumullah,

    Lantas, kapan kita diharuskan dan pantas untuk ber-husnudzan kepada Allah Ta’ala?

    Pertama, Husnudzan kepada Allah saat melakukan ketaatan. Saat berdoa, salat, dzikir, membaca al-Qur’an, sedekah, dan amalan- amalan ketaatan yang lainnya, baik yang hukumnya wajib ataupun sunnah. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa Allah Ta’ala berfirman:

    أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

    ”Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal kepada-Ku, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (H.R. Bukhari, 7405., Muslim, 2675.)

    Bagaimana kita memahami maksud hadits tersebut? Mari kita perhatikan dalam hadits tersebut di atas, ada korelasi (hubungan) yang sangat jelas antara husnudzan dengan amal, yaitu mengiringinya dengan mengajak untuk mengingat Allah ﷻ dan mendekat kepada-Nya dengan ketaatan. Siapa yang berprasangka baik kepada Allah ﷻ  semestinya prasangka baik tersebut mendorongnya untuk memperbaiki amalannya. Seorang Ulama Tabi’in yang bernama Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan;

    إن المؤمن أحسنَ الظنّ بربّه فأحسن العملَ ، وإنّ الفاجر أساءَ الظنّ بربّه فأساءَ العمل

    “Sesungguhnya seorang mukmin itu memperbaiki prasangka kepada Rabbnya, maka ia akan membaguskan amalannya. Dan sungguh seorang pendosa itu memperburuk prasangka kepada Rabbnya, maka ia memperburuk amalnnya” (Kitāb az- Zuhd, 402)

    Dalam penjelasan lain dikatakan maksud hadits tersebut tadi adalah; “mengira akan dikabulkan apabila berdoa, mengira diterima ketika bertaubat, mengira diampuni ketika memohon ampunan, mengira diterima amalnya (diberikan pahala) ketika melaksanakannya dengan memenuhi persyaratan, serta berpegang teguh terhadap kebenaran janji-Nya dan keluasan karunia-Nya”. Penjelasan ini diperkuat dengan hadits Nabi ﷺ:

    ادْعوا الله وأنتم موقِنون بالإجابة

    ”Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan (doanya).” (H.R. at-Tirmidzi, 3479)

    Sedangkan kalau dia beramal dengan amalan- amalan ketaatan tapi berkeyakinan atau menyangka bahwa Allah ﷻ tidak menerimanya dan hal itu tidak bermanfaat, maka hal itu termasuk berputus asa terhadap rahmat dan karunia Allah. Sedangkan putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar. (Al-Mufhim li Mā Asykala min Talkhīsh Kitāb Muslim, Abu al-‘Abbās al-Qurthubī, 7/ 5,6)

    Kedua, Husnudzan kepada Allah saat ditimpa musibah. Saat sakit, masa sulit, bahkan saat menjelang kematian. Walaupun sedang ditimpa musibah, kita tetap dituntut untuk berhusnudzan kepada Allah ﷻ. Bagaimana caranya? Kita meyakini musibah yang menimpa tersebut mengandung banyak hikmah, baik itu hikmah yang langsung Allah perlihatkan kepada kita, atau hikmah yang belum kita ketahui secara langsung, serta kita yakin bahwa Allah akan mengganti musibah tersebut dengan sesuatu yang lebih baik.  Ada sebuah kisah nyata, suatu ketika, Ummu Salamah ditinggal wafat oleh suaminya, Abu Salamah. Tentu sebagai istri, Ummu Salamah merasakan kesedihan yang mendalam. Tetapi ia teringat dengan pesan Nabi ﷺ sebelumnya, untuk berdoa di saat datangnya musibah;

    اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

    “Ya Allah, berilah pahala dalam musibah yang menimpaku dan berikanlah ganti dengan yang lebih baik” (H.R. Muslim, 918)

    Setelah masa ‘iddah Ummu Salamah selesai, Rasulullah ﷺ datang melamarnya, kemudian menikahinya. Maka Ummu Salamah semakin yakin bahwa Allah ﷻ  benar-benar telah menggantinya dengan yang lebih baik yaitu Rasulullah ﷺ.

    Dalam konteks yang lain, musibah yang menimpa seseorang, baik itu berkaitan dengan jiwa, harta, keluarga, pekerjaan, atau yang lainnya, jika orng tersebut tetap berhusnudzan kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Inilah hikmah; kebijaksanaan Allah ﷻ.

    مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

    Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik. (H.R. Muslim, 918)

    أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ والمسلمات إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم.

    Khutbah II

    الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ؛ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا؛ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ؛ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات؛ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، والجُنُونِ، والجُذَامِ، وَسَيِّئِ الأسْقَامِ .رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، ولذكر الله أكبر، وأقيموا الصلاة!

    Bagikan ke

    Belum ada komentar untuk Husnudzan kepada Allah Ta’ala

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Popular News

    • DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]

      Dec 19, 2025
    • JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]

      Jan 30, 2026
    • Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]

      Dec 11, 2025
    • SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]

      Dec 14, 2025
    • Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]

      Dec 11, 2025

    Latest News

    *Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]

    Oct 04, 2023

    *Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]

    Oct 11, 2023

    Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]

    Oct 11, 2023

    اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]

    Oct 12, 2023

    Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]

    Oct 14, 2023