
Dalam kehidupan, manusia sering kali lalai menghargai nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang menyentuh setiap Muslim agar tidak menyia-nyiakan pemberian Allah ﷻ kepada manusia dalam kehidupan. Karena setiap nikmat Allah ﷻ sejatinya adalah kebaikan untuk mendapatkan kebaikan yang lainnya. Dalam sebuah hadis beliau ﷺ bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu (Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Abī ad-Dunyā dalam kitab Qashr al-Amal (no. 111) dengan lafal ini, juga oleh al-Hākim (no. 7846), dan al-Bayhaqī dalam Syu‘ab al-Īmān (no. 10248) dengan sedikit perbedaan lafaz.)
Nabi ﷺ memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada umatnya agar mereka tidak menyia-nyiakan peluang dalam kehidupan. Sebab, waktu yang kita jalani di dunia sekarang hakikatnya adalah umur kita, dan ia pula yang menjadi bekal kita menuju akhirat. Nabi ﷺ menekankan agar umat Islam memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara. Pesan ini tidak hanya relevan untuk kehidupan spiritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial, kesehatan, ekonomi, dan produktivitas manusia.
Dalam hadis tersebut di atas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara…”. Lima perkara itu adalah:
Masa mudamu sebelum datang masa tuamu
Nabi ﷺ menegaskan agar seorang Muslim memanfaatkan masa mudanya, yaitu saat tubuh masih kuat, pikiran masih segar, dan semangat masih membara, untuk memperbanyak ibadah, amal kebaikan, dan kegiatan produktif. Masa muda adalah fase emas untuk berprestasi, berkarya, dan berjuang di jalan Allah.
Dalam konteks sekarang, anak muda sering terseret dalam budaya hedonisme, game online berlebihan, scroll konten instan di media sosial seharian, hingga pergaulan yang merusak. Padahal, potensi mereka bisa diarahkan ke hal-hal produktif, belajar ilmu, menambah wawasan, membangun relasi yang mutualis, membangun bisnis halal, menghafal Al-Qur’an, berorganisasi, ataupun berkontribusi dalam dakwah dan aktivitas sosial. Jika masa muda terbuang sia-sia, penyesalannya akan datang saat usia menua dan tenaga tak lagi mendukung.
Sehatmu sebelum datang sakitmu
Kesempatan beramal terbaik adalah saat badan sehat. Banyak orang baru merasakan betapa berharganya kesehatan ketika tubuh mulai sakit. Di era modern, gaya hidup tidak sehat, berlebihan mengonsumsi makanan instan, minuman yang terlalu banyak zat sintetis, kurang olahraga, stres, dan begadang, membuat penyakit mudah datang di usia muda. Maka hadis ini relevan sekali karena mengajak manusia menggunakan kesehatan untuk beribadah, menuntut ilmu, bekerja halal, dan menolong orang lain. Jangan tunggu sakit dulu baru sadar.
Kayamu sebelum datang miskinmu
Kekayaan bukan sekadar untuk dinikmati sendiri, tapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berzakat, bersedekah, membiayai pendidikan anak yatim, atau membantu dakwah dan amal sosial lainnya.
Di era kapitalisme sekarang, orang mudah terjebak pada gaya hidup konsumtif, beli barang yang tidak perlu, sekadar ikut tren atau memenuhi gengsi. Hadis ini mengingatkan kita bahwa sebelum harta itu habis, atau kita meninggalkan dunia tanpa sempat berinfak, gunakanlah ia di jalan yang benar. Kalau tidak, harta itu bisa jadi beban di akhirat.
Waktu luangmu sebelum datang sibukmu
Waktu adalah modal hidup yang paling mahal. Banyak orang punya waktu luang tapi tidak mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat. Nabi ﷺ memberikan peringatan saat kita masih punya jeda, gunakanlah untuk berbuat kebaikan, karena akan tiba masanya kita sibuk dengan pekerjaan, keluarga, atau urusan dunia yang menyita waktu.
Hari ini, waktu luang banyak terbuang oleh scroll media sosial berjam-jam, nongkrong tanpa arah, atau tenggelam dalam hiburan kosong. Padahal, jika dipakai membaca buku, menulis, atau menambah keterampilan, hasilnya akan terasa seumur hidup bahkan bisa menjadi amal jariyah.
Hidupmu sebelum datang matimu
Inilah penutup sekaligus puncak peringatan. Selama kita masih hidup, pintu kesempatan dan amal terbuka. Begitu kematian datang, semua kesempatan tertutup. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menuai hasil dari amal yang sudah ditanam.
Dalam konteks kekinian, kematian tidak pandang usia. Banyak anak muda meninggal mendadak karena kecelakaan, penyakit, atau bencana. Artinya, jangan menunda-nunda kebaikan. Hidup harus dipakai sebaik mungkin, sebab kita tidak tahu kapan ajal kematian tiba.
Hadis ini adalah wasiat abadi dari Nabi ﷺ agar setiap Muslim proaktif dalam mengelola hidupnya. Di era modern yang penuh distraksi atau gangguan dan godaan seperti sekarang, pesan Nabi ﷺ semakin relevan. Jangan biarkan waktu, usia muda, tenaga, kesehatan, harta, dan hidup kita tersedot untuk hal yang sia-sia.
Sebaliknya, gunakan potensi yang ada untuk menambah amal dan produktivitas, memperkuat iman, membangun karakter, berkontribusi untuk aktivitas sosial dan keumatan sesuai kemampuan yang kita miliki, dan menyiapkan bekal terbaik untuk akhirat. Karena lima nikmat ini; muda, sehat, kaya, luang, dan hidup, hanya terasa berharganya ketika sudah hilang.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Lima Perkara sebelum Lima Perkara