
Ada satu kalimat yang lebih berharga dari pada seluruh harta dunia, lebih mulia dari pada tahta dan kekuasaan, lebih menenangkan dari pada sejuta hiburan. Ia singkat di lisan, namun luasnya tak bertepi. Ialah kalimat Lā Ilāha Illallāh (Tiada Tuhan selain Allah).
Di tengah banyaknya permasalahan hidup manusia, memang renungan yang bersifat maknawi itu sangat dibutuhkan untuk asupan jiwa sebelum ia kering dan terbawa arus kegelisahan. Karena memang ternyata tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan tindakan empiris. Ada luka yang tidak selalu sembuh dengan obat, ada cemas yang tetap tinggal meski akal sudah berusaha menempuh berbagai jalan keluar.
Para ulama menegaskan bahwa kalimat Lā Ilāha Illallāh adalah inti agama, poros segala ibadah, dan batas pemisah antara cahaya tauhid dan gelapnya syirik. Ia bukan sekadar formula keimanan, tapi juga fondasi kekuatan hati dan kelapangan jiwa. Tiap hurufnya terkandung dua gerakan: penafian segala sesembahan palsu (an nafyu), lalu penetapan hanya Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan dipuji (al itsbāt).
Namun, di luar ranah teori, bagaimana sejatinya kalimat ini hidup menemani keseharian kita?
Mulai dari bangun dari tidur, seharusnya bukan hanya rutinitas jasmani, tapi kesadaran rohani. Bisikan Lā Ilāha Illallāh menjadikan pagi bukan sekadar awal kerja, tetapi sebuah janji; bahwa hari ini kita akan berjalan di bawah bimbingan Allah ﷻ, bukan hawa nafsu, bukan manusia, bukan dunia.
Di meja kerja, di ladang, di pasar, di toko, di bengkel, di jalanan, atau di manapun seseorang berada, kalimat ini berguna sebagai perisai. Ia mengingatkan kita bahwa rezeki bukanlah hasil tipuan atau curang, melainkan anugerah dari Tuhan yang Maha Mengatur. Karenanya, seorang Muslim yang bernafas dengan Lā Ilāha Illallāh akan menjauhi tipu-tipu, riba, suap, korupsi, dan pola-pola zalim lainnya. Ia bekerja bukan demi dunia semata, melainkan ibadah.
Saat beban hidup bertambah berat, Lā Ilāha Illallāh memberikan kekuatan dan menopang jiwa untuk tetap tegak berdiri dan bergerak maju. Ia memberikan cahaya untuk menembus kegelapan. Ia juga memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat dan bersandar. Hati yang menggenggam kalimat ini tidak akan larut dalam keputusasaan, karena ia sadar bahwa tidak ada kekuatan yang benar-benar mampu menguasai selain Allah ﷻ. Firman-Nya meneguhkan,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِ
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. (QS. Ath-Thalāq ayat 3)
Kalimat ini juga memurnikan relasi. Sebab kita tahu Allah adalah saksi di balik semua interaksi. Kita tidak lagi menjadikan pandangan manusia sebagai ukuran, tetapi ridha Allah.
Ketika sebagian manusia menjadi “tuhan-tuhan kecil”, kemudian memunculkan penindasan, hukum diperjualbelikan, hukum Allah dicampakkan, hak-hak manusia dirampas, dan suara keadilan dipelintir, bagi seorang Muslim yang benar-benar menghayati Lā Ilāha Illallāh, ia yakin bahwa kezaliman tidak akan bertahan. Sebab Allah telah berjanji,
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
“Janganlah engkau mengira Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim…”
(QS. Ibrāhīm ayat 42)
Di keheningan malam, ketika dunia terlelap, kalimat ini menjadi bisikan lembut. Ia meninggikan doa, menguatkan sujud, dan melapangkan dada. Lā Ilāha Illallāh menyalakan obor tauhid di kegelapan, menjadikan hati tak lagi gelisah oleh kerumitan dunia.
Ketika kalimat ini benar-benar mendarah daging, lahirlah kekuatan sekaligus keberanian dalam amal, ketenangan dalam menghadapi cobaan, dan kemerdekaan sejati dari segala bentuk menghinakan diri di hadapan manusia serta lepas dari perbudakan sesama makhluk.
Lā Ilāha Illallāh bukan hanya kalimat teologis, bukan sekadar ucapan religius, bukan pula hiasan di dinding masjid atau rumah-rumah. Ia adalah spirit harian seorang Muslim. Dengan kalimat ini, hidup menjadi ibadah, kesulitan menjadi celah-celah kemudahan, dan kematian menjadi gerbang menuju perjumpaan mulia dengan Allah.
Maka, semoga setiap napas kita beraroma tauhid, setiap langkah kita berawal, berlandaskan, dan berakhir dengan Lā Ilāha Illallāh. Dan ketika napas terakhir terlepas, semoga kalimat inilah yang setia menemani kita pulang: Lā Ilāha Illallāh.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Lā Ilāha Illallāh: Spirit Harian Kehidupan Seorang Muslim