
Fenomena gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, selalu menjadi perhatian manusia sejak zaman dahulu. Sebagian masyarakat yang masih kental dengan klenik mengaitkan gerhana dengan mitos, takhayul, peristiwa mistis tertentu, bahkan dianggap pertanda wafat atau lahirnya orang besar, mirip dengan anggapan kaum jahiliyah. Begitu juga sebagian orang yang mengganggap sains adalah segalanya, atau mereka yang ‘menuhankan sains’ memandang fenomena gerhana adalah peristiwa alam biasa semata tanpa melibatkan unsur-unsur keilahian. Dua kutub esktrim tersebut tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya mereka masih ada di zaman modern ini. Namun, Islam hadir meluruskan semua anggapan dan pandangan tersebut berikut dengan penjelasan yang holistik (menyeluruh) disertai panduan yang jelas dalam menyikapi fenomena gerhana.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran) Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya. Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, dan dirikanlah sholat sampai (gerhana itu) kembali terang (HR. Bukhari, no. 1000, Muslim, 988)
Dari hadis tersebut di atas, setidaknya bisa kita petik pelajaran berharga, yakni;
Pertama, hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukanlah fenomena alam biasa semata, tetapi juga tanda (آية) dari kekuasaan Allah ﷻ, yang dengannya manusia agar takut dan kembali kepada-Nya. Manusia dengan bantuan teknologi canggih memang mampu memprediksi waktu terjadinya gerhana, wilayah mana saja yang bisa menyaksikan fenomena tersebut. Tetapi manusia sama sekali tak memiliki kuasa dan tak akan pernah mampu untuk menunda, mencegah, atau mengubah waktu dan tempat terjadinya gerhana. Fenomena gerhana matahari dan bulan adalah ayat kauniyyah Allah ﷻ. Allah ﷻ secara mutlak menghendaki terjadinya peristiwa alam tersebut kapan waktunya dan di mana tempatnya.
Kedua, gerhana terjadi bukan karena kematian atau kelahiran orang besar atau peristiwa mistis tertentu sebagaimana keyakinan orang-orang jahiliyah. Nabi ﷺ membatalkan keyakinan mereka dengan sabdanya:
لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ
Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kelahirannya.
Wejangan Nabi ﷺ tersebut juga menjadi dalil bahwa gerhana tidak berkaitan dengan nasib orang atau manusia tertentu, melainkan fenomena kosmik (jagat raya) yang Allah tundukkan dan kehendaki sebagai tanda kebesaran-Nya.Inilah yang disebut Ayat Kauniyyah Allah ﷻ.
Ketiga, ketika gerhana terjadi, disyariatkan beribadah kepada Allah, memperbanyak doa, dan melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) ataupun kusuf (gerhana matahari). Itulah penegasan Nabi ﷺ lewat sabdanya,
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdoalah kepada Allah, dan dirikanlah sholat sampai (gerhana itu) kembali terang
Dalam hadis yang lain Nabi ﷺ juga bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah (HR. Bukhari, 986)
Di dalam riwayat Muslim, no. 1518 disebutkan,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
Jika kalian melihatnya maka bersegeralah berdzikir mengingat Allah, memanjatkan do’a padaNya, serta memohon ampunan-Nya
Keempat, hadis ini mengajak manusia untuk merasa takut, tunduk, dan kembali kepada Allah ﷻ. Gerhana merupakan pengingat akan hari kiamat, ketika matahari dan bulan benar-benar kehilangan cahayanya, atau menampakkan wujudnya yang berbeda dari penampakan biasa yang setiap hari dilihat manusia. Dengan demikian, gerhana bukan hanya fenomena alamiah, tetapi juga peringatan Allah agar manusia menyiapkan diri menghadapi kehidupan akhir. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Qiyamah ayat 7-9 sebagaimana berikut,
فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ (7) وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ (8) وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ (9)
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), (7) Dan apabila bulan telah hilang cahayanya,(8) Dan matahari dan bulan dikumpulkan,(9)
Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, bukan fenomena mitologis atau takhayul, atau sekadar peristiwa alam biasa. Islam memberikan panduan dalam menyikapi fenomena gerhana dengan memerintahkan umatnya untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah ﷻ, beribadah, memperbanyak doa, takbir, melaksanakan sholat sunnah gerhana, memperbanyak istighfar, dan bersedekah. Bukan dengan keyakinan jahiliyah atau adat istiadat yang sesat.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Empat Pelajaran dari Sabda Rasulullah ﷺ Terkait Gerhana