
Di tengah hiruk pikuk dunia modern, popularitas sering kali dianggap sebagai indikator keberhasilan. Nama yang dikenal oleh khalayak ramai, wajah yang sering muncul di layar, akun media sosial dengan banyaknya pengikut, atau karya dan konten yang viral, seolah menjadi tanda bahwa seseorang telah mencapai puncak. Namun, Islam justru menawarkan perspektif yang lebih dalam; tenang tanpa populer sering lebih berharga dari pada terkenal tapi dihantui keresahan.
Baginda Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat ilustratif tentang dua tipe manusia yang kehidupannya termasuk terbaik. Dalam sebuah hadis, beliau ﷺ bersabda,
مِنْ خَيْرِ مَعاشِ النَّاسِ لهمْ، رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنانَ فَرَسِهِ في سَبيلِ اللهِ، يَطِيرُ علَى مَتْنِهِ، كُلَّما سَمِعَ هَيْعَةً، أوْ فَزْعَةً طارَ عليه، يَبْتَغِي القَتْلَ والْمَوْتَ مَظانَّهُ، أوْ رَجُلٌ في غُنَيْمَةٍ في رَأْسِ شَعَفَةٍ مِن هذِه الشَّعَفِ، أوْ بَطْنِ وادٍ مِن هذِه الأوْدِيَةِ، يُقِيمُ الصَّلاةَ، ويُؤْتي الزَّكاةَ، ويَعْبُدُ رَبَّهُ حتَّى يَأْتِيَهُ اليَقِينُ، ليسَ مِنَ النَّاسِ إلَّا في خَيْرٍ
Di antara kehidupan terbaik bagi manusia adalah (1) seorang laki-laki yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah, ia terbang (bergerak cepat) di atas punggungnya, setiap kali ia mendengar seruan atau keadaan genting, ia segera bergegas ke sana, mencari tempat-tempat yang mungkin ada pertempuran dan kematian syahid atau (2) seorang laki-laki yang hidup dengan sedikit kambing di puncak bukit dari bukit-bukit ini, atau di lembah dari lembah-lembah ini, ia menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Rabb-nya sampai datang kepadanya ajal (kematian), dan ia tidak berurusan dengan manusia kecuali dalam kebaikan (HR. Muslim, no. 1889)
Hadis ini memotret dua jalan mulia yang tampak berbeda, tapi hakikatnya sama-sama menuju ridha Allah.
Yang pertama adalah jalan perjuangan terbuka: “seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah”. Ia digambarkan selalu memantau gerakan musuh, bersiap menghadapi lawan, dan bergerak cepat bila ada panggilan, dan tak gentar mencari syahid. Hidupnya penuh resiko, penuh sorotan, tapi juga penuh makna. Dalam konteks hari ini, kita bisa membayangkannya sebagai orang yang selalu siap berada di garda depan di medan jihad ataupun medan kebaikan.
Yang kedua, jalan kehidupan yang senyap. Nabi ﷺ menggambarkan sosok yang berbeda: “seorang laki-laki dengan beberapa kambing kecil di puncak bukit atau di lembah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Rabb-nya hingga datang kematian, tidak banyak berinteraksi dengan manusia kecuali dalam kebaikan.” Ini adalah potret hidup sederhana, jauh dari sorotan, tanpa hiruk pikuk dan kehebohan manusia. Dalam bahasa masa kini, mungkin ia adalah orang yang memilih jalannya sendiri, bukan viral di media sosial, bukan populer di panggung penampilan, tetapi setia menjalani keseharian dengan tenang sebagai insan individu dan sosial. Ia bekerja secukupnya, beribadah dengan khusyuk, mengurus keluarga, berbuat baik tanpa sorotan. Kehidupannya tidak banyak diketahui orang, tapi justru di situlah ketenangan yang sesungguhnya.
Dua sosok ini terkesan berbeda, yang satu heroik, yang lain sunyi. Namun keduanya sama-sama mulia, karena intinya adalah pengabdian total kepada Allah ﷻ. Ada kalanya kita dipanggil untuk berada di depan, menanggung sorotan, bahkan juga resiko. Dan ada saatnya pula kita diarahkan dan dituntun untuk memilih jalan sederhana, cukup, dan tenang tanpa perhatian publik.
Popularitas memang menggoda, terlebih di zaman digital seperti sekarang tidak jarang ia menjanjikan dan menghasilkan. Maka di era masifnya sosial media, banyak yang mengejar viralitas, seolah ukuran keberhasilan adalah berapa banyak orang mengenal nama, menjadi follower dan liker. Padahal, popularitas sering kali membawa gelisah. Ia menuntut tenaga, memanggil ujian hati, dan kadang menjauhkan dari ketulusan. Walaupun ramai dengan tepuk tangan yang bisa memberi semangat sesaat, tapi sering menyisakan kekosongan batin.
Sebenarnya, popularitas itu tidak selamanya berarti buruk. Ada orang yang memang ditakdirkan untuk muncul di permukaan, diberi amanah untuk menjadi tokoh publik, dai, pemimpin, atau siapapun itu yang memang harus tampil di layar atau di depan banyak orang. Tetapi, hadis Nabi ﷺ juga mengingatkan bahwa,
من لبس ثوبَ شهرةٍ ألبسَه اللهُ يومَ القيامةِ ثوبًا مثلَه ثم تلهبُ فيه النارُ وفي لفظٍ ثوبَ مذلَّةٍ
“Barang siapa memakai pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas), niscaya Allah akan memakaikannya pada hari kiamat pakaian yang semisal dengannya. Lalu pakaian itu akan dinyalakan api. Dan dalam riwayat lain: pakaian kehinaan” (HR. Abu Dawud, no. 4029)
Hadis ini sebenarnya menyinggung soal niat dan orientasi hidup. Islam tidak melarang orang berpakaian bagus, tidak pula melarang tampil di publik. Tetapi yang dilarang adalah menjadikan keduanya sebagai sarana untuk riya’, kesombongan, dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
Di sisi lain, ada orang-orang yang mereka tidak dikenal, tidak diperhatikan, luput dari pandangan publik, tetapi sering kali lebih merasakan ketenangan. Dalam bahasa harian bisa dibilang; hidup sederhana, apa adanya, tidak terkenal, yang penting tenteram. Justru ketika merasa cukup dengan yang ada, cukup rezeki, cukup teman, cukup kesempatan, sesungguhnya disitulah hati akan menemukan ruang untuk bersyukur. Ketika hidup tidak dibebani dengan viralitas penampilan, sesungguhnya bisa lebih fokus pada hal-hal esensial seperti ibadah, keluarga, dan kebaikan kecil yang konsisten. Tak sedikit orang yang terkenal di dunia maya, tapi di dunia nyata merasa kesepian. Sebaliknya, ada yang tak dikenal di media sosial, tapi dicintai lingkungannya karena kebaikan kecil yang konsisten. Ada keuntungan besar dalam ketidakpopuleran; bisa berjalan tanpa beban, berbuat tanpa hitung-hitungan citra, dan merasakan kebahagiaan sederhana yang tidak ternilai. Hidup menjadi lebih ringan, karena tidak ada yang harus dipamerkan. Maka, ada benarnya jika jalan sunyi yang jarang dilalui justru menyimpan ketenangan yang banyak orang cari.
Sabda Nabi ﷺ yang mengilustrasikan dua sosok manusia terbaik dalam kehidupan tadi adalah pesan lembut bagi umatnya sepanjang zaman yang sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Tidak semua kebaikan harus terlihat. Ada kalanya, jalan sunyi yang jauh dari sorotan justru lebih berkah dan lebih menenangkan.
Popularitas bisa memberi sorak sorai, tepuk tangan, dan kekaguman publik di depan layar-layar gawai, tetapi kesunyian juga tidak kalah berharga karena ia sering kali menghadiahkan kedamaian hati yang tak ternilai. Dua-duanya bisa menjadi jalan mulia bila diniatkan untuk kebaikan dan dijalani dengan ikhlash. Dan kita, pada akhirnya, hanya perlu memilih dengan hati yang jernih; apakah ingin hidup penuh sorotan atau cukup dengan kesederhanaan yang menenangkan.
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Popularitas yang Menguji, Kesunyian yang Menenangkan: Membaca Ulang Pesan Nabi ﷺ tentang Ketenangan dan Kecukupan