
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU/ Dosen Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung)
Pernah nggak sih kita ngerasa yakin banget sama satu hal, tapi ternyata cuma perasaan kita doang? Atau kita udah yakin mantap, tapi ternyata zonk. Atau kita ngerasa ragu-ragu di antara dua pilihan? Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya kalau kita bedah kitab Kasyfu as-Sātir Syarh Ghawāmidh Raudhatun Nādzir, ternyata isi kepala kita saat menyerap informasi itu ada leveling-nya, kayak berkasta-kasta gitu. Memahami ini penting banget supaya kita nggak gampang kejebak hoax atau merasa paling benar padahal cuma asumsi.
Fondasi Awal: Ilmu, Apa itu?
Sebelum kita sampai pada kesimpulan, akal kita kerja lewat sebuah proses dasar. Proses dasar ini secara umum disebut al-‘Ilmu. Para ulama mendefinisikan al-‘Ilmu sebagai berikut:
حُصُولُ صُورَةِ الشَّيءِ فِي الْعَقْلِ
“Hadirnya gambaran sesuatu di dalam akal.”
Ibaratnya, akal kita itu kayak kamera. Begitu kita melihat atau mendengar sesuatu, “jepret!”, gambaran objek itu tersimpan di otak. Nah, kalau mau lebih detail lagi, ada dua fase di sini:
Pertama, Tashawwur. Ini tahap paling dasar, di mana kita cuma nangkep bayangan objeknya tanpa penilaian. Ibarat denger kata “kopi”, kita cuma ngebayangin kopi hitam di gelas. Makanya definisi tashawwur itu:
حصول صورة الشيء في العقل من غير حكم عليه بنفي أو إثبات
“Hadirnya gambaran suatu hal di dalam akal, tanpa disertai penetapan atau penafian hukum atasnya.”
Kedua, Tahsdiq: Di sini kita mulai kasih vonis atau hukum. Misal: “Kopi ini pahit.” Di sinilah akal mulai menghubungkan antara gambaran tadi dengan kenyataan. Definisi lengkapnya tashdiq itu:
حصول صورة الشيء في العقل مع الحكم عليه بالنفي أو الإثبات
“Terbentuknya gambaran suatu hal di dalam akal, disertai penetapan atau penafian hukum atasnya.”
Kadar Akurasi Akal: Kita Ada di Level Mana?
Kita kayaknya juga menyadari, bahwa nggak semua gambaran yang mampir di otak punya kualitas kebenaran yang sama. Untuk memudahkan, mari kita gunakan perumpamaan, misalnya: Seseorang sedang melihat benda dari posisi dia sedang berada. Ini dia tingkatannya:
Macam Ilmu Masuk ke Otak Berdasarkan Caranya
Next, ilmu yang kita dapet itu nggak semuanya lewat jalur yang sama, ada dua macam:
Kita juga perlu ngerti, kalau dalam bahasa Arab, pengetahuan itu biasa juga disebut pakai dua istilah; Ilmu dan Ma’rifah. Meskipun sering dianggap sama, ternyata kalau dikaji secara ushul ada bedanya. Ilmu biasanya bahas hal yang sifatnya umum dan hukum global. Sedangkan ma’rifah itu lebih spesifik, mendalam, dan biasanya didapat setelah proses pencarian panjang.
Itulah kenapa Allah disebut Al-‘Alim (Maha Mengetahui), bukan Al-‘Arif. Karena ilmu Allah itu Qadim Azali, sudah ada sejak dulu banget (azali), nggak ada permulaannya, mencakup segalanya, nggak ada yang luput dari Allah, tanpa pernah didahului oleh rasa nggak tahu. Beda dengan manusia, kalau ilmu manusia ada permulaannya (hadits), dari nggak tahu, terus ada informasi, akhirnya jadi tahu. Dari nggak ngerti, ada proses belajar, jadi ngerti.
Closing Statement
Kita tau kan ya, bahwa dunia yang sudah tua ini penuh informasi yang tumpang tindih. Maka dari itu, kalau kita baru di level dzann, jangan gaya-gayaan kayak level yakin. Nggak usah overclaim. Dan yang paling penting, sebisa mungkin hindari jahl murakkab alias sok tahu padahal keliru dan nggak ngerti kalau dia itu keliru.
So, mari terus belajar dan berhati-hati. Kalau ada kesalahan, kita perbaiki. Namanya juga manusia, pasti ada salahnya. Yang penting kita mau fair, salah ya kita benerin dan perbaiki, gitu aja. Tingkatkan kapasitas diri, kumpul sama orang-orang baik dan pinter yang bisa ngasih pengaruh positif, dan jauhi lingkungan yang toxic.
Stay kritis, stay rasional, keep calm!
DEPOK — Masjid Nurul Iman PHI yang terletak di Jl. Haji Dimun Raya, Sukamaju, Cilodong, Kamis siang bakda Dzuhur (18/12/2025) dipenuhi suasana hangat dan antusias saat pengajian rutin kitab Al-Adab Al-Mufrad digelar. Kegiatan kali ini dihadiri tamu istimewa dari Timur Tengah, yaitu Dukturoh Huda Mahjub, pengajar asal Sudan sekaligus akademisi yang pernah mengajar di King […]
Bandar Lampung akan menjadi saksi pertemuan para pakar dan praktisi bahasa Arab dari Mesir dan Indonesia. Pada hari Ahad, 21 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447, Institut Agama Islam Darul Fattah (INDAFA) Lampung akan membuka pintunya dan menjadi tuan rumah untuk Seminar Internasional Bahasa Arab bertajuk “تكامل التراث والتقنية في خدمة اللغة العربية” (Integrasi […]
JAKARTA – Khazanah keilmuan Islam di Lampung akan segera mendapat tambahan energi baru yang luar biasa. Tak tanggung-tanggung, lebih dari satu ton kitab turats dari berbagai disiplin ilmu meluncur dari jantung ibu kota menuju Bumi Ruwa Jurai. Langkah mulia ini diinisiasi oleh Pembina Yayasan L-DATA (Lembaga Dakwah dan Taklim) Jakarta, K.H. Dr. Muhammad Yusuf Harun, […]
SOLO/JAKARTA – Sebuah inisiatif mulia kembali diluncurkan untuk memfasilitasi umat Islam dalam menuntut ilmu syar’i. Hudaya Safari Jateng (Jawa Tengah), sebuah biro perjalanan yang berfokus pada layanan Umroh dan Haji yang amanah, berkolaborasi dengan Ahla Institute menyelenggarakan program pengajian Bahasa Arab intensif secara daring (online). Program ini dijadwalkan akan dimulai pada Senin, 15 Desember 2025. […]
Penulis: Ahla Kembara, B.Sh., MA. (Alumnus Fakultas Syariah LIPIA-IMSIU) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ، وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُوَصِّلُنَا إِلىَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظْرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ؛ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ السَّيِّدُ السَّنَدُ الْعَظِيْمُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا […]
*Ditulis oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakutas […]
*Oleh: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh., MA. (Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syari’ah IAI Al Ghurabaa […]
Tak kenal, maka ta’aruf. Tak kenal maka kenalan. Apakah Ramadhan itu? Mungkin, sebagian orang sekadar tahu bahwa Ramadhan adalah bulan […]
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْد، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ […]
Penulis: Ahla Kembara, S.Pd., B.Sh, MA. (Founder AHLA Institute, Dosen Muta’awin Qism I’dad Lughowi LIPIA Jakarta & Dosen Fakultas Syariah […]
Belum ada komentar untuk Navigasi Akal: Memetakan Cara Kita Mengetahui Sesuatu